Fintech dan Techfin di Era Bank 4.0, Teman atau Musuh?

Penulis, Khansa Khairunnisa Mahasiswa PKN STAN Sidoarjo.
Penulis, Khansa Khairunnisa Mahasiswa PKN STAN Sidoarjo.
Create: Fri, 06/26/2020 - 19:59
Author: Redaksi

 

BENGKULU, eWARTA.co -- Disrupsi dalam digital membawa perubahan mendasar dalam berbagai aspek bisnis, termasuk jasa keuangan.

Revolusi industri bank mampu mendorong perilaku baru konsumen dalam mengakses layanan keuangan dan perbankan.

Model baru perbankan muncul dengan fintech dan techfin yang sama-sama memiliki inovasi dalam teknologi pembayaran.

Lalu, apa yang membedakan antara fintech dan techfin? Apakah keduanya bisa bersama-sama turut andil dalam Era Bank 4.0? Jawaban atas semua pertanyaan mendasar ini terangkum semua dalam Buku “Bank 4.0” karya Brett King.

Buku tersebut mencoba mengulas lebih lanjut terkait bagaimana perkembangan pesat teknologi berpengaruh pada industri perbankan. Selain itu, terdapat pula pendapat para pakar mengenai fintech terhadap masa depan bank.

Fintech dan techfin, serupa tapi tak sama. Hal tersebut tepat menggambarkan hubungan antara fintech dan Techfin. Bagi orang awam, kedua istilah tersebut sama dan tidak memiliki perbedaan yang signifikan.

Namun, lain halnya dengan para pakar di bidang teknologi dan keuangan digital yang menyatakan kedua istilah itu berbeda.

Melansir dari Bank Indonesia, fintech atau Financial Technology adalah hasil gabungan antara jasa keuangan dengan teknologi yang akhirnya mengubah model bisnis dari konvensional menjadi moderat, yang awalnya dalam membayar harus bertatap-muka dan membawa sejumlah uang kas, kini dapat melakukan transaksi jarak jauh dengan melakukan pembayaran yang dapat dilakukan dalam hitungan detik saja.

Fintech menggambarkan start-up teknologi dalam pembayaran (bi.go.id., 2020). Contoh nyata fintech saat ini seperti Paypal, Ovo, Dana, Zelle, Venmo.

Sedangkan, untuk techfin atau Technology Financial menurut Forbes yaitu suatu referensi perusahaan teknologi yang menemukan cara yang lebih baik untuk memberikan produk atau layanan keuangan dengan menggunakan teknologi digital (forbes.com, 2018).

Fintech merepresentasikan teknologi digital dan mobile dalam menawarkan suatu produk. Representatif aktual saat ini yaitu Google Pay, Apple Pay, Samsung Pay, Gojek Pay, Alibaba (Ant Financial).

Baik fintech maupun techfin keduanya memberikan angin segar untuk industri keuangan di masa depan.

Beberapa tahun yang lalu, Jack Ma, co-founder visioner teknologi dan ketua eksekutif Alibaba Group, mengatakan bahwa, ada dua peluang besar di industri keuangan di masa depan.

Salah satunya adalah perbankan online, sedangkan yang lain adalah keuangan internet yang murni dipimpin oleh orang luar. Brett King, pencipta buku “Bank 4.0”,mengatakan bahwa berkaca pada penelitian yang dilakukan oleh Accenture, terdapat dua kemungkinan hasil berdasarkan perubahan makro terkait investasi dan daya tarik di sekitar perusahaan fintech (King, 2012) yaitu:

1. Skenario pertama : Terganggu secara digital. Bank akan kehilangan profitabilitasnya dibanding perusahaan fintech yang lebih efektif di era digital, dimana mereka gencar menawarkan pendekatan penjualan berbasis produk daripada meningkatkan pengalaman pelanggan.

2. Skenario kedua : Konsep ulang digital Bank akan semakin terintegrasi dalam berinovasi di tingkat model bisnis. Fokus mereka akan bergeser dari yang semula memonopoli aset menjadi meningkatkan kehidupan pelanggan dengan menanamkan pengalaman layanan keuangan.

Brett pun mengatakan bahwa pada akhirnya, bank sebenarnya memiliki empat pilihan dalam merespons perubahan struktural jasa keuangan dalam inovasi fintech (King, 2012) yaitu:

1. Tidak melakukan apapun Apabila Bank memilih pilihan ini yang terjadi yaitu terjadi penurunan kinerja yang semakin lama semakin usang.

2. Bermitra dengan fintech Ketika bank memilih pilihan ini merupakan langkah yang tepat, karena manfaat yang diperoleh jauh lebih besar daripada resiko yang diterima. Bank bisa berinovasi sehingga menjadi lebih hemat dan cepat daripada bekerja sendiri.

3. Mengakuisisi fintech Bank memilih pilihan ini memang berpotensi lebih cepat dalam menyerap teknologi, tetapi tentunya biaya yang dikeluarkan lebih mahal.

4. Meniru inovasi fintech lambat sangat mahal Bank memutuskan untuk meniru inovasi fintech yang terjadi tentunya memakan biaya dan tentunya lambat dalam meningkatkan inovasi, dimana pasti menunggu inovasi fintech keluar dulu, baru bisa dijiplak.

Hal yang tepat dilakukan saat ini tentunya yaitu kolaborasi dan kemitraan antara keduanya. Karena, manfaat yang diperoleh jauh lebih besar daripada resikonya. Terdapat 3 manfaat yaitu penghematan biaya, penyegaran merek, serta peningkatan pendapatan.

Mengutip video dalam Youtube TEDx Talks yang berkolaborasi dengan Henri Arslanian, pembicara utama terkait fintech. Henri mengatakan bahwa saat ini sedang melalui salah satu sejarah keuangan transformasi terbesar dalam mengubah perbankan yaitu revolusi fintech.

Dalam hal ini, para bankir masa depan akan sangat berbeda yaitu dari segi keahlian dan kepribadian daripada para bankir saat ini.

Pada saat yang sama, beberapa dari inovasi teknologi yang paling mengubah dari cara kita hidup menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. (Arslanian, 2016) Menurut bank dunia, selama 5 tahun terakhir, 700 juta orang berubah dari yang semula tidak memiliki rekening bank menjadi memiliki rekening bank.

Hal tersebut tentu tidak luput dari campur tangan fintech yang secara terus-menerus bekerja untuk mentransformasikan bagaimana jasa keuangan bisa tersampaikan dengan baik dan konsumen menjadi penerima manfaat terbesar.

Saat ini, chatbots yang meniru percakapan manusia sedang diuji untuk menggantikan pusat panggilan (call centers) (Arslanian, 2016).

Lalu, bayangkan premi asuransi kecelakaan mobil tiba-tiba turun secara otomatis karena kartu Anda tahu bahwa Anda selalu mengemudi dengan aman sehingga kecil kemungkinan terjadi kecelakaan dan secara otomatis memberi tahu perusahaan asuransi Anda.

Beberapa bank akan berhasil dalam evolusi ini dan mampu menanamkan budaya inovasi dan kewirausahaan, tetapi banyak juga yang tidak. Citibank memperkirakan selama 10 tahun kedepan, 30% pekerjaan perbankan akan hilang. Beberapa pakar pun ada yang menyebutkan hingga 50% (Arslanian, 2016).

Namun, kabar baiknya, beberapa pekerjaan baru akan muncul di industri fintech tetapi dalam jumlah yang jauh lebih kecil. Beberapa pekerjaan baru tersebut seperti desainer kreatif dan programmer.

Dalam merespon Era Bank 4.0, diharapkan bank-bank berinovasi atau menyesuaikan dengan teknologi saat ini. Bank harus peka terhadap transformasi besar yang sedang terjadi. Artinya, bank konvensional perlu gerak cepat dalam menyikapi era bank 4.0.

Kunci pergeseran dalam Bank 4.0 adalah teknologi mentransformasi cara manusia berhubungan dengan bank. Lebih dari sekadar layanan jasa simpan pinjam, pembayaran, dan pemberian kredit. Namun, telah menyatu dengan kehidupan sehari-hari dalam masyarakat.

(Khansa Khairunnisa Mahasiswa PKN STAN)