Kunjungan Ke-4 ke Pasar Tanjung, Gus Fawait: Bukan Gusur PKL, Tapi Atur Jam Jualan

 

JEMBER, ewarta.co – Bupati Jember, Dr. Muhammad Fawait (Gus Fawait), kembali melakukan blusukan ke Pasar Tanjung pada Rabu (16/9/2026). Kunjungan ini merupakan peninjauan resmi keempat kalinya yang dilakukan sejak ia resmi dilantik.

​Hadir bersama sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Gus Fawait menegaskan kehadirannya bertujuan untuk mendengar langsung aspirasi para pedagang di pasar tradisional terbesar di Kabupaten Jember tersebut.

​"Hari ini kunjungan keempat untuk mendengarkan langsung aspirasi pedagang Pasar Tanjung," ujar Gus Fawait.

​Ia menyampaikan bahwa berbagai janji politiknya untuk para pedagang Pasar Tanjung telah direalisasikan dan menjadi prioritas utama sejak awal masa jabatannya.

​"Sebelum menginjakkan kaki di Pendopo, saya sudah berjanji menurunkan retribusi pasar, dan itu sudah terwujud," lanjutnya.

​Gus Fawait merinci empat langkah konkret yang telah dijalankan Pemkab Jember:

​* Penurunan Retribusi Pasar: Memperingan beban finansial para pedagang.

​* Stabilisasi Harga: Peninjauan harga kebutuhan pokok secara berkala, termasuk bersama Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa.

​* Lobi APBN Rp250 Miliar: Berkoordinasi dengan Menteri Pekerjaan Umum (PU) untuk perbaikan total Pasar Tanjung menggunakan anggaran APBN.

​* Peningkatan Fasilitas & Kesejahteraan: Pembangunan mushola, penyediaan jaminan kesehatan gratis (UHC), serta alokasi beasiswa pendidikan bagi anak-anak pedagang.

​Menanggapi dinamika antara pedagang di dalam gedung dan Pedagang Kaki Lima (PKL) di area luar, Gus Fawait menegaskan bahwa Pemkab Jember memilih opsi penataan ketimbang penggusuran.

​"Bukan penggusuran, tapi penataan. Prinsipnya sama-sama rakyat kecil yang mencari nafkah. Pedagang di atas dan di bawah harus sama-sama bisa hidup," tegasnya.

​Pemkab Jember akan mengatur jam operasional PKL di bagian bawah agar kegiatan berdagang tetap tertib tanpa merugikan pedagang di lantai atas.

​Gus Fawait menambahkan, blusukan ini sengaja dilakukan tanpa rekayasa agar Pemkab bisa menyerap aspirasi secara objektif.

​"Tidak ada settingan. Kami ingin mendengar suara murni pedagang. Pasarnya akan kita bangun, kesehatannya ditanggung, anak-anaknya diberi akses beasiswa, dan tempat ibadahnya sudah dibangun."

​"Fabiayyi ala irobbikuma tukadziban, nikmat mana lagi yang tidak kita syukuri," pungkasnya. (Prw)

​Penulis: Hafit