Nikah Muda Sumbang Angka Stunting

Ilustrasi
Create: Fri, 16/07/2021 - 15:28
Author: Alwin Feraro
Tags

 

BENGKULU,eWARTA.co -- Pegawai Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Bengkulu mengatakan prilaku menikah muda jadi salah satu penyumbang angka stunting di Bengkulu yang saat ini sebesar sebesar 27,98 persen. 

"Jumlah penduduk usia 8–23 tahun di Bengkulu mencapai 581.970 jiwa, 28 persen dari jumlah penduduk 2,010 juta jiwa. Kelompok usia tersebut perlu pendampingan dalam mendapati pengetahuan tentang kesehatan agar secara spesifik memahami stunting," kata Kepala BKKBN Provinsi Bengkulu, Rusman Effendi, Jumat (16/7/21).

Dari jumlah tersebut, prevalensi status gizi tinggi badan pada umur 16-18 tahun di Provinsi Bengkulu dengan kondisi tubuh sangat pendek mencapai 3,59 persen dan tubuh pendek 19,88 persen. Hal itu, kata Rusman menunjukkan stunting pada remaja mencapai 23,46 persen. 

Rusman menyebut karakteristik kelamin laki-laki 28,14 persen, dan terhadap kelompok perempuan mencapai 45,94 persen. Sementara pada karakteristik tempat tinggal perkotaan sebesar 21,18 persen dan pedesaan sebesar 24,65 persen.

Kemudian, berdasarkan hasil survei demografi dan kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2017, angka kelahiran pada kelompok usia 15-19 tahun masih cukup tinggi yakni mencapai 49/1000 kelahiran hidup.

"Dari sini, nikah dini atau pernikahan anak di desa menjadi salah satu penyumbang angka stunting yang cukup tinggi selain kebutuhan gizi," tambahnya.

Menurut Rusman, dalam pelaksanaan program pembangunan kependudukan perlu kerjasama dengan berbagai lembaga pemerintah dan swasta di Bengkulu, dan bahkan organisasi keagamaan, serta sejumlah lembaga pendidik tinggi.

Melalui kerjasama lintas sektor tersebut, selain memberikan pendidikan pencegahan stunting, terlebih awal bertujuan untuk menekan angka pernikahan usai anak, sehingga dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang dapat diketahui dengan indek pembangunan manusia (IPM). 

"2020 tercatat IPM sebesar 71,40 persen, meningkat dari sebelumnya 71,21 persen. Kualitas IPM tersebut dipengaruhi oleh pendidikan. Jadi sangat ditekankan untuk usia remaja perlu pendidikan yang layak agar IPM-nya juga naik sehingga potensi terjadinya stunting dapat diatasi," pungkasnya. (Bisri)