Bolaang Mongondow, eWarta.co – Kabupaten Bolaang Mongondow genap berusia 72 tahun hari ini, tepat pada 23 Maret 1954, saat daerah ini ditetapkan sebagai kabupaten baru. Sejarah mencatat, pembentukan Kabupaten Bolaang Mongondow terjadi setelah pengunduran diri Paduka Raja terakhir, Tuang Henny Yusuf Cornelis Manoppo, pada 1 Juli 1950, dan maklumat bergabungnya kerajaan Bolaang ke Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sebelumnya, Kerajaan Bolaang merupakan kerajaan yang berdaulat secara hukum, politik, dan ekonomi, serta dikenal sebagai salah satu kerajaan yang disegani di semenanjung utara Sulawesi, Senin(23/3/2026).
Anton Cornelis Manoppo menjadi Bupati pertama Kabupaten Bolaang Mongondow melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 24 Tahun 1954 dan menjabat hingga Juni 1954. Hingga kini, Bupati Yusra Alhabsyi, M.Si, memimpin Kabupaten Bolaang Mongondow sebagai bupati ke-15.
Usia 72 tahun bagi sebuah daerah, seperti Bolaang Mongondow, ibarat seorang anak yang mulai memasuki masa dewasa, menemukan identitas dan eksistensi diri. Di tangan Bupati Yusra Alhabsyi dan Wakil Bupati Dony Lumenta, Kabupaten Bolaang Mongondow tengah menapaki arah baru pembangunan dengan semangat Bolmong JUARA (Maju dan Sejahtera).
Landasan Pembangunan dan Transformasi Ekonomi
Salah satu capaian penting di HUT ke-72 ini adalah kebangkitan kembali Perusahaan Daerah GADASERA yang sebelumnya mati suri. Di bawah kepemimpinan Direktur Utama Irawan Paputungan, bersama jajaran direksi Putri Damayanti Potabuga dan Hi. Marjan Palutungan, GADASERA telah melakukan transformasi besar. Penataan kembali tanah milik daerah di sektor pertanian dan perkebunan berjalan lancar, memberdayakan masyarakat tanpa menimbulkan konflik, sekaligus meningkatkan kontribusi PAD (Pendapatan Asli Daerah). GADASERA kini bergerak menuju model badan usaha daerah modern yang diharapkan mampu menggerakkan ekonomi lokal secara massif.
Pendidikan dan Akses Anak Daerah
Di bidang pendidikan, perhatian pemerintah daerah terhadap anak-anak dan pelajar semakin nyata. Bantuan pendidikan berupa perlengkapan sekolah, seragam, serta layanan bus antar-jemput gratis untuk sekolah di daerah terpencil, memperlihatkan komitmen Bupati dan Wakil Bupati dalam memberikan akses pendidikan merata. Selain itu, pembangunan universitas lokal yang menekankan moderasi beragama dan toleransi juga tengah digalakkan, bekerja sama dengan IAIN Manado dan institusi agama lainnya, menjadi laboratorium keberagaman di Dumoga Raya.
Ekonomi, Investasi, dan Pertambangan
Dalam sektor ekonomi, UMKM dan investasi lokal mendapat perhatian khusus. Bantuan, pelatihan, dan pendampingan bagi pelaku usaha diharapkan mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat. Sektor pertambangan juga ditata secara profesional, baik untuk perusahaan besar seperti PT. JRBM, PT. BDL, dan PT. Cons, maupun untuk Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR), memberikan solusi ekonomi bagi penambang lokal dengan perlindungan hukum yang jelas.
Pelestarian Budaya dan Identitas Lokal
Pemerintah daerah juga fokus pada pelestarian budaya dan identitas lokal. Pembangunan kantor bupati di Lolak dengan arsitektur Komalig (rumah adat/kerajaan Bolaang) serta dukungan terhadap penulis lokal dalam dokumentasi sejarah dan budaya menjadi bukti nyata kepedulian terhadap warisan daerah.
HUT ke-72 sebagai Momentum Akselerasi Pembangunan
HUT ke-72 Kabupaten Bolaang Mongondow bukan sekadar perayaan. Ini menjadi momentum bagi Bupati Yusra Alhabsyi dan Wakil Bupati Dony Lumenta untuk menegaskan arah pembangunan daerah, menyiapkan landasan pacu menuju masa depan, serta memperkuat peradaban lokal di era modern. Semua capaian ini merupakan “prakata awal” dari karya besar yang akan terus berlanjut di tahun-tahun mendatang.(Hamri Mokoagow)









