Vaksinasi Perbankan dan Jasa Keuangan Ujung Tombak Pemulihan Ekonomi Nasional

Tags

 

BENGKULU,eWARTA.co -- Kepala Perwakilan Bank Indonesia Bengkulu Joni Marsius mengatakan kegiatan vaksinasi pegawai sektor jasa keuangan Provinsi Bengkulu menjadi langkah yang penting, tidak saja dalam upaya mencapai herd immunity, tetapi juga merupakan upaya menjaga momentum pemulihan ekonomi nasional. 

"Seperti kita ketahui, sektor perbankan dan industri jasa keuangan menjadi ujung tombak dari kesuksesan program pemulihan ekonomi nasional. Kegiatan bantuan sosial, pemberian kredit UMKM, serta restrukturisasi kredit yang menjadi bagian dari program tersebut saat ini dilakukan melalui rekan-rekan di sektor jasa keuangan," kata Joni, Sabtu (31/7/21) saat membuka pelaksanaan vaksinasi yang digelar pada hari ini hingga 3 Agustus 2021 mendatang.

Joni menyebut, sektor jasa keuangan khususnya perbankan memiliki peran yang sangat vital dalam perekonomian, khususnya sebagai agent of development. Lebih lagi jumlah aset Perbankan Provinsi Bengkulu pada tahun 2020 mencapai Rp 26,05 triliun. 

"Pelaksanaan vaksinasi ini juga bertepatan dengan tiga momen penting di Bank Indonesia, yaitu HUT BI, HUT RI, dan bagian dari Road to Festival Ekonomi Syariah. Hal ini memiliki makna komitmen dan kesadaran kami untuk terus menjadi mitra solutif bagi semua pihak dalam upaya pembangunan ekonomi dan kemanusiaan," kata Joni.

Joni juga memaparkan dari segi penyaluran dana, total penyaluran kredit dan pembiayaan perbankan telah mencapai Rp 31,78 triliun. Angka tersebut telah mencapai pangsa 68,58% daru total perekonomian di Provinsi Bengkulu (PDRB tahun 2020). 

Sementara itu, dari sisi jumlah rekening total jumlah rekening perbankan saat ini telah mencapai 2,7 juta rekening, dimana 98,64% dari jumlah tersebut dimiliki perorangan oleh masyarakat. Saat ini, rekening tersebut telah menghasilkan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar Rp 15,3 triliun.
    
Selanjutnya dari sisi sitem pembayaran khususnya tunai, perbankan Provinsi Bengkulu secara total berkontribusi melakukan peredaran uang sebesae Rp 10,83 triliun di tahun 2020. Untuk sistem pembayaran non tunai, perbankan di Provinsi Bengkulu memiliki peran dalam penyelesaian settlement pembayaran baik dari SKNBI Sistem Kliring Nasional bank Indonesia) maupun RTGS (real Time Gross Settlement). Secara detail, total SKNBI dan RTGS di Provinsi Bengkulu pada tahun 2020 sebesar Rp 1,27 triliun dan Rp 23,25 triliun. 
    
"Selain dari itu, risiko operasional perbankan akibat COVID-19 relatif tinggi. Survey Bank Indonesia, tingkat kunjungan nasabah per hari di kantor bank adalah mencapai 225 orang. Selain itu, 1 kantor cabang bank melayani radius 102 Km2," kata Joni.

"Sehingga kasus COVID-19 yang menyebabkan terhentinya operasional bank akan berdampak pada layanan bank yang lebih jauh akan menghambat pemulihan ekonomi nasional dan terhentinya transaksi perbankan hingga Rp 8,3 miliar per hari," lanjutnya. 

Pada kaitannya dengan ekonomi syariah, bahwasannya persoalan COVID-19 ini membuka kesadaran, diperlukan solidaritas sosial untuk membantu pemerintah dalam penanganan masalah kesehatan dan ekonomi akibat ekonomi COVID-19. Salah satu solusi tersebut adalah, melaui optimalisasi Islamic Social Finance melalui Zakat, Infaq, Shodaqoh, dan Waqaf. 

"Berkenaan dengan itu, tanggal 14 Agustus akan segera terbentuk forum waqaf produktif di Bengkulu yang dimaksudkan untuk mensinergikan program Ziswaf untuk penanganan kesehatan, pengentasan kemiskinan, pengembangan UMKM dan ekonomi syariah, pendidikan dan masalah-masalah sosial lainnya" jelas Joni. 

Adapun pelaksanaan vaksinasi hari ini diikuti pegawai sektor jasa keuangan di Provinsi Bengkulu. Kegiatan vaksinasi dipimpin oleh Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah, serta dihadiri oleh Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu, Joni Marsius, Kepala OJK Provinsi Bengkulu, Tito Adji Siswantoro dan Pimpinan Institusi Keuangan di Provinsi Bengkulu. 

"Pegawai jasa keuangan yang mengikuti kegiatan vaksinasi mencapai 593 orang," pungkas Joni. (Bisri)