Idul Fitri DPR Seluma

googlesyndication

12 Kerajaan Gaib di Gua Matu yang Dipercaya Masyarakat Persisir Barat

 

LAMPUNG - Siapa sangka terdapat gua menjorok menghadap laut samudera di Pesisir Barat Provinsi Lampung dengan sebutan Gua Matu. Destinasi wisata Gua Matu ini merupakan destinasi wisata religi yang memiliki sisi mistis tentang adanya 12 kerajaan gaib yang dipercaya secara turun temurun oleh masyarakat Pesisir Barat.
 
Letaknya di Desa Way Sindi, Kecamatan Karya Penggawa, Kabupaten Pesisir Barat, dapat ditempuh melalui jalur darat Jalan Lintas Barat (Jalinbar) Sumatera dalam waktu sekitar 7 jam 30 menit dengan jarak 314 dari Kota Bengkulu Provinsi Bengkulu atau 253 kilometer dari Ibu Kota Bandar Lampung.

Goa Matu tidak terlalu sulit untuk ditemukan, dikarenakan letak gerbang masuknya di sebelah Kanan Jalinbar Sumatera jika dari arah Kaur Bengkulu. Untuk memasuki destinasi Gua Matu, pengunjung tidak dikenai tiket masuk, melainkan memberikan uang seikhlasnya kepada juru kunci. Sesampainya di tempat ini, kami menemui Makmur Hakim selaku juru kunci Gua Matu. Pak Makmur ini lah yang akan memandu pengunjung menuju ke Gua Matu.

Asal-Usul Nama Gua Matu

Makmur Hakim menjelaskan asal-usul Gua Matu, di mana nama ini berasal dari bahasa Jawa yakni Gua dan Matu atau batu, merupakan Gua Berbatu. Menurut ceritanya, Gua Matu adalah sebuah pusat pemerintahan membawahi 12 kerajaan gaib se-nusantara. Bahkan  Nyi Roro Kidul sebagai penguasa Laut Selatan yang dipercayai oleh masyarakat Pulau Jawa juga berkantor di sini. 

"Nyi Ratu Roro Kidul pun ikut rapat di sini. Kalau dia datang, pasti ombak laut ini pasang, karena beliau menggunakan kereta kencananya," kata Makmur.

Makmur mengungkap, Gua Matu ditemukan oleh kakek moyangnya yang bernama Sawaluddin pada masa penjajahan Inggris sampai beliau masuk dan bersemedi di sini. 

Pemerintahan Gua Matu dipimpin Tuyuk Dewa Pangeran Hyang, sedangkan ratunya bernama Permaisuri Ratu Putri Gudung Sakti, "Panglimanya bernama Poyang Panglima Haji Saleh, Alhamdulillah beliau ada di hadapan saya," kata Makmur.

Akses Gua Matu

Gua Matu terletak di bawah tebing yang langsung menghadap ke laut. Bersama Juru Kunci Makmur, kami menyusuri 299 anak tangga berkelok dan menurun sampai ke mulut gua.

Terdapat 2 gajebo, 1 pemandian dan 1 mushola yang tak jauh dari Gua Matu. Fasilitas ini tak jauh dari rumah Juru Kunci atau tepatnya berada di lahan seluas 2 Hektare miliknya.

Izin Sebelum Eksplorasi

Sesampainya di Gua Matu, Makmur tidak langsung mengizinkan pengunjung untuk masuk. Dia terlebih dahulu duduk bersila di sebuah batu besar di depan mulut gua. Menurut dia, ada doa-doa khusus yang dipanjatkan dan meminta izin kepada penunggu gua yang tak kasat mata. Doa kemudian dilanjutkan ke dalam Gua dengan berbagai amalan seperti salawat nabi, wirid dan doa khusus bagi penghuni kerajaan gaib ini. 

Di bagian atas mulut gua ini, terdapat tiga ular yang konon jelmaan sang penunggu gua. Namun, tidak semua pengunjung bisa melihatnya. Karena sesekali nampak, dan bersembunyi di antara celah batu.

Setelah berdoa, Makmur mengatakan bahwa kehadiran kami disambut baik oleh penguasa Gua Matu. Lalu, atas arahan sang juru kunci, kami memasuki mulut Gua Matu melalui tangga menurun. Mulut Gua yang kami masuki dipercaya sebagai jendela¬—jika Gua Matu diibaratkan sebuah rumah—sedangkan pintunya ada di sisi laut.

Aroma Amoniak Dalam Gua Matu

Puluhan ribu Kelelawar bertengger di dalam Gua Matu menghembuskan aroma amoniak khas menyengat. Kelelawar yang merasakan kehadiran kami pun terbang kesana kemari di atas 45 meter dari kepala kami. Namun setelah adanya ikatan batin dan izin dari penghuni Gua, pengunjung kelamaan tak lagi mencium aroma ini. Ada keberkahan tersendiri bagi warga sekitaran Gua Matu untuk dapat mengambil dan menjualnya sebagai pupuk organik. 
Kondisi tanah yang kami pijak cukup lembab dan berair. Selain karena minimnya udara dan cahaya matahari yang masuk ke gua ini, juga disebabkan oleh air laut yang masuk ke tempat ini kala gelombang pasang.

Benda Keramat Pemberian Sang Penguasa Kerajaan Gaib

Makmur menceritakan banyaknya orang-orang yang berdatangan ke Gua Matu dengan berbagai tujuan. Mulai dari mencari kekayaan hingga jabatan. Dia juga menunjukan benda kecil menyerupai keris berwarna kuning keemasan. Menurutnya, benda tersebut adalah pemberian dari sang penguasa kerajaan gaib di Gua Matu.

"Ini bukan beli atau saya buat sendiri, tapi pemberian langsung dari Poyang penguasa Kerajaan Matu. Dan ini tidak sembarangan orang saya kasih lihat benda ini," ucapnya sembari menunjukan benda mirip keris berwarna kuning keemasan.

Selain benda mirip keris, Makmur juga menunjukan cincin dengan mata berwarna merah delima. Jika diperhatikan dengan seksama, ada guratan di dalamnya menyerupai angka sembilan. Menurutnya, angka sembilan ini menjadi dasar pembuatan anak tangga menuju Gua Matu yang berjumlah 299 anak tangga.

Juga ada cambuk kecil dengan bentuk serupa dengan keris sebelumnya. Fungsi cambuk ini adalah untuk mengusir ruh gaib yang merasuki tubuh pengunjung. Kerap terjadi pengunjung yang kerasukan apabila melakukan sesuatu yang terlarang di area gua ini. 

Makmur juga berpesan agar tujuan pengunjung ke Gua Matu disertai hal tulus dan bersih. Dia pun mewanti-wanti, karena tidak sedikit orang yang datang ke tempat tersebut dengan tujuan yang tidak baik, akhirnya tidak dapat memasuki Gua Matu. 

Bermalam untuk Melihat Kerajaan Nyata

Tak sedikit peziarah bermalam di Gua Matu untuk melihat kerajaan gaib jadi nyata. Menurut Juru Kunci Makmur Hakim, sarat utama kerajaan ini dapat dilihat oleh mata telanjang adalah dengan bermalam di Gua Matu. 

“Pengunjung bisa melihat kerajaan jadi nyata asal dengan syarat sudah tidur di Gua Matu. Baik itu semalam atau bahkan ada yang harus tiga malam agar pengunjung bisa melihatnya,” kata Makmur.

Mendengar itu, penulis pun langsung membuktikan. Dengan berbekal seadanya, penulis bersama beberapa rekan langsung mengambil wudu dan tidur di dalam Gua Matu. Namun, tidur di sini tidaklah mudah dan murah. Ada jutaan kecoa dan tomcat siap menggerayangi peziarah yang tidur tanpa persiapan di dasar gua. Ini menjadi satu cobaan bagi para peziarah. 

Cobaan kedua, barangsiapa yang memiliki hati masih bercampur baur dengan dunia, niscaya tak akan sampai pada hajat melihat kerajaan gaib jadi nyata. Terbukti, saat penulis masih memiliki pemikiran itu—setengah perjalanan menuju tidur lelap—ribuan mata gaib langsung tertuju pada diri penulis.  Penulis merasakan betapa dahsyatnya kekuatan gaib di Gua Matu. Tak hanya merinding, mata yang tertuju tadi seakan mengisyaratkan agar penulis tidak melanjutkan tidur, alias harus enyah dari dalam gua. Kala itu tepat pukul 23.00 WIB, tiga jam setelah penulis dan beberapa rekan melanjutkan amalan—tanpa dipandu lebih lanjut oleh juru kunci. Namun rekan penulis masih nyenyak dengan tidurnya sampai tak sadar kegelisahaan hanya mencuat dari diri penulis. Sebelum akhirnya pergi, bahkan penulis merasakan kehausan dan panas dari dalam tubuh. 

Mata yang awalnya tak melihat sesuatu apapun di dalam kegelapan, berangsur-angsur melihat keadaan gua. Entah dilihatkan atau hanya fatamorgana, penulis melihat setengah hektar gua dengan berbagai pintu dimensi tampak tak jauh dari tempat tidur, terlihat hamparan hutan luas. Di sana juga terdapat  satu pohon besar dengan tinggi mencapai ratusan meter. Sepanjang ilusi, dengan bantuan senter penulis menelusuri tebing curam dengan batuan terjal di dalam gua. Bahkan suara hingar bingar mahluk gaib juga terdengar sayup sayup, bercampur suara cekikikan kelelawar. 

Bertahan dengan berbagai doa dan amalan, akhirnya pukul 23.30 WIB penulis memutuskan beranjak keluar Gua Matu sendirian meninggalkan beberapa rekan yang masih pulas tertidur. Sepanjang jalan menuju gerbang keluar, ribuan pasang mata masih saja melirik ke arah penulis hingga terputus di gajebo pertama saat memasuki Gua Matu. 

Mempercayai yang Gaib  

Salah satu ciri utama orang bertakwa adalah beriman kepada sesuatu yang gaib. Iman kepada yang gaib menjadi syarat fundamental dalam Islam. Keimanan ini berarti percaya seyakin-yakinnya bahwa ada entitas di luar dunia indrawi. Entitas ini adalah sesuatu yang nyata, bukan sekadar ajaran filosofis abstrak ataupun perumpamaan.

Orang mukmin wajib meyakini bahwa ada realitas yang tak terjangkau oleh kemampuan manusia. Ada entitas nonlogis di luar daya visual dan daya pikir manusia.

Ajaran inilah yang membedakan Islam dengan materialisme. Angin modernisme yang datang dari Barat berkeinginan menggusur akidah Islamiah digantikan dengan akidah jahiliyah ini. Kepercayaan seseorang kepada yang gaib semakin menipis. Mereka terlalu mengedepankan rasionalitas empiris. Dimensi nonmateri dipojokkan dan dituduh sebagai sesuatu yang serba mitos. Orang yang percaya pada sesuatu yang gaib dikatakan sebagai orang yang kurang modern bahkan musyrik.

Kelompok inilah yang disebut oleh Alquran dengan Al ad-dahr sebagai Kelompok materialis dan hanya memercayai kehidupan materi. Mereka percaya hanya hukum alamlah yang menyebabkan semuanya hancur. Tak ada kuasa di balik semua yang riil. Keadaan dunia ini tak ada kaitannya dengan dimensi gaib termasuk kuasa Tuhan. (Bisri)