TEGAL, ewarta.co – Setelah lebih dari tiga dekade mengabdi sebagai mantri pengairan, Kuntoro membawa pulang lebih dari sekadar pengalaman mengenai saluran air, persawahan, dan persoalan teknis di lapangan. Ia juga membawa persaudaraan yang terjalin dengan banyak pihak selama menjalankan tugas.
Mulai 1 September 2026, Kuntoro resmi memasuki masa purna tugas sebagai aparatur sipil negara di lingkungan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Tegal. Namun, berakhirnya masa kedinasan tersebut tidak serta-merta mengakhiri hubungan yang telah dibangunnya selama bertahun-tahun.
Bagi Kuntoro, tugas sebagai mantri pengairan membuatnya dekat dengan masyarakat. Hampir setiap persoalan di lapangan menuntutnya berkomunikasi dengan berbagai pihak, mulai dari ulu-ulu atau Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A), pemerintah desa dan kelurahan, hingga masyarakat pengguna air.
Dari berbagai pertemuan yang semula berlangsung dalam konteks pekerjaan, hubungan personal pun perlahan terbentuk.
“Selama menjadi mantri, saya banyak berhubungan dengan lurah dan kepala desa. Dari situlah persaudaraan terjalin,” ujar Kuntoro, Senin (31/8/2026).
Kuntoro mengawali karier sebagai pegawai negeri sipil pada 2007 di lingkungan Pengairan Slawi. Lima tahun kemudian, ia mendapat penugasan di wilayah Jatinegara dan bertugas di sana hingga 2023.
Pada tahun yang sama, ia dipindahtugaskan ke UPT DPUPR Wilayah 3 Slawi. Di tempat tersebut, Kuntoro melanjutkan pengabdiannya hingga masa kerjanya berakhir.
Selama menjalankan tugas, ia menyadari bahwa persoalan pengairan di lapangan tidak selalu dapat diselesaikan hanya dengan kemampuan teknis. Komunikasi perlu dibangun, sementara kepentingan masyarakat harus dipahami secara menyeluruh.
Karena itu, hubungan baik dengan pemerintah desa dan kelurahan menjadi bagian penting dalam pelaksanaan tugasnya. Koordinasi diperlukan ketika muncul persoalan terkait pengairan, sedangkan hubungan yang harmonis membantu memperlancar penyelesaiannya.
“Pekerjaan di lapangan tidak bisa dilakukan sendiri. Komunikasi dengan pemerintah desa, kelurahan, dan pihak terkait sangat diperlukan,” katanya.
Puluhan tahun bekerja di lapangan memberikan Kuntoro beragam pengalaman. Ia bertemu dengan banyak orang, berpindah wilayah kerja, dan menghadapi berbagai persoalan. Sebagian dari mereka mungkin pada awalnya hanya dikenal sebagai mitra kerja, tetapi kemudian berkembang menjadi bagian dari hubungan persaudaraan yang ia anggap berharga.
Kini, ketika seragam kedinasan tidak lagi menjadi bagian dari rutinitasnya, Kuntoro berharap hubungan tersebut tetap terpelihara.
Menurutnya, purna tugas hanya menandai berakhirnya kewajiban kedinasan. Hubungan antarmanusia yang telah terbangun selama bertahun-tahun tidak seharusnya ikut berakhir.
“Yang paling penting bagi saya adalah persaudaraan. Selama bertugas, kita bertemu banyak orang dan membangun hubungan. Mudah-mudahan silaturahmi tetap berjalan,” ujarnya.
Bagi Kuntoro, setelah lebih dari 33 tahun mengabdi, kenangan tentang pekerjaan tidak hanya tersimpan dalam catatan masa kerja. Kenangan itu juga melekat pada orang-orang yang pernah ditemuinya sepanjang perjalanan.
Ketika tugas kedinasan telah selesai, persaudaraan itulah yang ingin terus ia jaga. (David)










