Gas Melon Langka dan Mahal, Warga Ngeluh ke Dewan

Anggota DPRD Kota Bengkulu, Indra Sukma
Create: Fri, 06/12/2019 - 18:54
Author: Redaksi

 

BENGKULU, ewarta.co - Warga Kota Bengkulu hampir satu bulan terakhir mengeluhkan kelangkaan dan sulitnya mendapatkan Gas Melon atau lebih dikenal Gas 3 Kilogram.

Menanggapi hal ini, Ketua Komisi II DPRD Kota Bengkulu Indra Sukma dalam reses pertama pada periode 2019 - 2024 ini menyebutkan, ada banyak penyebab kelangkaan dan melonjaknya harga gas melon.

Melalui Camat Singaran Pati Saiful Anwar, menyampaikan keluhan warga terkait gas elpiji ini.

"Pak Indra Sukma, kami mau minta tolong, kalau bisa Elpiji jangan macet, sulit kami mencarinya, kalaupun mencari ke tempat lain, harganya naik pak, tidak seperti harga di pangkalan, kalau di pangkalan Rp 16 ribu - Rp 17 ribu, kalau sudah di warung-warung Rp 25 ribu pak," sampainya, Jum'at (6/12).

Menanggapi hal ini, Indra Sukma menyebutkan bahwa ada banyak faktor dan penyebab kelangkaan gas elpiji ini.

Untuk di pengecer, menurutnya tidak begitu menjadi masalah, karena pengecer juga menjual gas tersebut kepada masyarakat, namun memang pasti ada permasalahan di harganya.

"Kalau masalah gas, ini banyak penyebabnya, kalau pengecer sebenarnya bukan begitu jadi kendala, pengecer ini juga menjual ke masyarakat, paling bermasalah di harga," Kata Anggota Dewan yang kerap disapa Pak Ucok ini.

Beliau pun berpendapat, bahwa gas Elpiji untuk di Kota Bengkulu, terkhusus di Kecamatan Singaran Pati dan Gading Cempaka perlu mendapat penambahan kuota gas elpiji.

Sebab, kuota gas yang ada saat ini dinilai sangat kurang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, jika dilihat dari data masyarakat miskin diambil dari data penerima beras raskin.

Kuota atau jatah gas per kepala keluarga hanya tiga tabung gas perbulan, padahal jumlah tersebut sangat kurang untuk rumah tangga, karena per tabungnya habis dalam lima hari, jadi tentu membutuhkan sekitar lima tabung gas per bulan.

"Penyebab kelangkaan ini bisa saja karena mereka yang harusnya cuma dapat tiga di data Pertamina per bulan, tapi mereka butuhnya lima, jadi ada kekurangan disitu," tambahnya.

Selain itu, adanya bantuan dari pemerintah yang menyerupai perahu nelayan tenaga gas, yang menggunakan gas elpiji sebanyak dua tabung dan mesin penyedot air untuk petani yang juga menggunakan tenaga gas.

"Jadi kalau tidak ada kuota (gas) tambahan, sementara yang ada di pangkalan itu diperuntukan untuk rumah tangga dan UKM, bukan untuk nelayan dan petani, jadi kami akan menindak dan akan memanggil dinas terkait untuk mendorong penambahan kuota (gas elpiji) di pertamina," pungkasnya. (Nay)