Guru di Bengkulu Utara Cabuli Belasan Siswa SD, Yayasan PUPA Minta Pelaku Dihukum Berat

Create: Sun, 16/04/2023 - 17:49
Author: Redaksi

 

BENGKULU, eWarta.co -- Direktur Yayasan Pusat Pendidikan Untuk Perempuan dan Anak (PUPA) Provinsi Bengkulu, Susi Handayani mengutuk keras atas terjadinya kasus dugaan pencabulan guru honorer kepada belasan siswa SD di Kabupaten Bengkulu Utara. 

Susi meminta aparat penegak hukum (APH) mengusut dan menuntaskan kasus pedofil yang melibatkan pelaku KM (32) terhadap 19 anak laki-laki di bawah umur tersebut.

"Kami meminta kepolisian untuk mengusut tuntas kasus pedofil yang diduga dilakukan guru terhadap 19 siswanya," kata Susi, Minggu (16/4/23).

Terlebih lanjut Susi, dalam kasus ini terkuak atas adanya korban lain, Purwanto (42) yang meninggal dunia akibat bunuh diri setelah diduga mengetahui kebejatan pelaku. 

"Harus diusut apakah meninggalnya Purwanto ada keterlibatan dengan kasus ini. Apakah korban tersebut murni bunuh diri atau sengaja dibunuh," ujar Susi.

Susi menegaskan penyelesaian kasus harus benar-benar memperhatikan hak-hak anak yang menjadi korban. 

Selain itu ia mengajak semua elemen mengawal kasus ini dan meminta agar pelaku dijatuhi hukum yang berat berdasarkan undang-undang yang berlaku mengingat jumlah korban yang banyak.

"Kami akan mengawal kasus ini sampai tuntas, dan kita yakin jika pihak kepolisian akan berlaku profesional dalam penanganan kasus ini. Semoga anak-anak mendapatkan pendampingan berupa pemulihan," demikian Susi.

Sebelumnya Kepolisian Resor (Polres) Bengkulu Utara berhasil mengungkap kasus pencabulan anak di bawah umur melibatkan seorang guru honorer SD di Kecamatan Ulok Kupai.

Pelaku KM ditangkap Satuan Reskrim Polres Bengkulu Utara, dipimpin Kasatreskrim Iptu Ardian Yunan Saputra di kediamannya pada Sabtu (15/4) siang.

Sebanyak 19 murid laki-laki menjadi korban pencabulan sejak 2019 hingga 2023. Dari jumlah tersebut 7 korban di antaranya dicabuli, dan 12 lainnya menjadi korban sodom.

Terungkapnya kasus tersebut setelah kepolisian melakukan penyelidikan terhadap kematian, Purwanto pekerja di salah satu bengkel setempat, atas buku diary-nya. Dalam buku tersebut, korban menyebutkan sebanyak 30 persen siswa setempat telah menjadi korban pencabulan.

"Korban meninggal dunia dengan mulut berbusa. Dari diary-nya inilah kami melakukan pemeriksaan terhadap korban dan barulah diketahui bahwa korban benar telah disodomi pelaku KM," tutur Kasatreskrim.

Aksi keji yang dilakukan oleh pelaku ini berlangsung di beberapa tempat, diantaranya berada di kamar tidur pelaku, ruang kelas sekolah, ruang UKS, ruang WC sekolah, WC masjid, dan di kegiatan perkemahan.