Hati-hati! Stres Akibat Pandemi Bisa Menyebabkan Kebotakan

Ilustrasi. (happyprostudio)
Ilustrasi. (happyprostudio)
Tags

 

BENGKULU,eWARTA.co -- Dr. Shilpi Khetarpal, dari asosiasi professor dermatology di Cleveland Clinic menemukan fenomena baru selama pandemi Covid-!9. Ia mengatakan, banyak pasien sembuh dari paparan virus corona, mengalami keluhan berupa rambut rontok. Bahkan keluhan ini juga disampaikan oleh pasien yang tidak terjangkit.

"Ada banyak stress yang menimpa selama pandemi. Dan kami masih melihat rambut mereka yang gugur karena stres itu belum menghilang," katanya, dilansir laman nytimes.com, Sabtu (26/9/2020).

Dokter melihat adanya peningkatan jumlah pasien yang cukup besar dengan keluhan rambut rontok. Mereka yakin, keluhan ini berkaitan dengan stress yang diakibatkan pademi. Pada waktu normal, orang-orang pada umumnya kehilangan rambut dikarenakan trauma emosional, operasi atau penyakit tertentu.

Sebelum pandemi, pasien dengan keluhan serupa tidak ditemui dalam waktu sepekan. Kini pasien dengan keluhan tersebut bisa mencapai 20 pasien dalam seminggu. Dengan contoh kasus, seorang ibu yang kesulitan menghadapi dua anaknya saat sekolah sekaligus kerja dari rumah.

Dalam survei Natalie Lambert, seorang profesor penelitian di Indiana University School Medicinepada, Juli lalu, tentang gejala pasca-Covid menyebut di antara 1.567 anggota kelompok yang selamat, 423 orang melaporkan kerontokan rambut yang tidak biasa.

Dr. Emma Guttman-Yassky, ketua departemen dermatologi di Fakultas Kedokteran Icahn Mount Sinai, juga mengaku telah merawat banyak pekerja medis garis depan untuk kerontokan rambut, termasuk karyawan rumah sakitnya.

"Beberapa dari mereka terserang Covid-19, tapi tidak semua. Streslah yang menjadi penyebab situasi ini. Mereka bagian dari keluarga, mereka bekerja dari rumah," katanya. 

Ada dua jenis rambut rontok yang tampaknya dipicu pandemi, kata para ahli. Dalam satu kondisi, yang disebut telogen effluvium, orang-orang kehilangan lebih dari 50 hingga 100 helai rambut setiap hari, biasanya dimulai beberapa bulan setelah mengalami stres. 

"Ini pada dasarnya melibatkan pergeseran sistem pertumbuhan rambut," kata Dr. Sara Hogan, seorang dokter kulit di David Geffen School of Medicine di University of California, Los Angeles.

Dalam siklus rambut sehat, sebagian besar rambut berada dalam fase tumbuh, dengan persentase kecil dalam fase istirahat pendek dan hanya sekitar 10 persen rambut dalam fase rontok atau telogen. Tetapi dengan telogen effluvium, orang-orang lebih banyak rontok, tumbuh lebih sedikit. Dan hingga 50 persen rambut mungkin melompat ke fase rontok, dengan hanya sekitar 40 persen dalam fase pertumbuhan.

Fenomena yang juga dialami beberapa wanita setelah kehamilan ini, biasanya berlangsung sekitar enam bulan, tetapi jika situasi stres berlanjut atau berulang, beberapa orang mengembangkan kondisi pelepasan kronis. 

Kondisi kerontokan rambut lain yang meningkat saat ini adalah alopecia areata, di mana sistem kekebalan menyerang folikel rambut, biasanya dimulai dengan bercak rambut di kulit kepala atau janggut.

“Itu diketahui terkait dengan atau diperburuk oleh stres psikologis,” kata Dr. Mohammad Jafferany, psikiater dan dokter kulit di Central Michigan University. (red)