Bengkulu, eWarta.co – Dewan Pimpinan Pusat Himpunan Pertashop Merah Putih Indonesia (HPMPI) meminta pemerintah meninjau kembali kebijakan kenaikan harga BBM non-subsidi yang dinilai memberatkan pelaku usaha Pertashop di berbagai daerah.
Ketua Umum HPMPI, Steven, menegaskan kenaikan harga Dexlite hingga 66 persen telah memberi tekanan besar terhadap usaha retail BBM skala kecil. Lonjakan harga tersebut memicu pergeseran konsumsi masyarakat ke BBM subsidi yang lebih murah.
“Kenaikan Dexlite hingga 66 persen memberi tekanan besar bagi pelaku usaha. Selisih harga yang lebar mendorong masyarakat beralih ke BBM subsidi,” ujar Steven, kemarin.
Menurutnya, kondisi ini membuat daya saing Pertashop semakin melemah karena masyarakat cenderung memilih bahan bakar seperti Bio Solar yang harganya lebih terjangkau. Jika dibiarkan, banyak usaha Pertashop berpotensi mengalami penurunan omzet secara signifikan.
HPMPI menilai pemerintah perlu menjaga keseimbangan harga antara BBM subsidi dan non-subsidi agar tidak terjadi disparitas harga yang terlalu jauh. Kebijakan harga yang lebih terukur dianggap penting untuk menjaga stabilitas pasar energi nasional.
Selain menjaga keberlangsungan usaha Pertashop, kebijakan harga yang seimbang juga dinilai penting untuk melindungi daya beli masyarakat serta memastikan distribusi BBM tetap berjalan hingga wilayah pedesaan.
“Kami berharap kebijakan harga ke depan lebih berimbang, sehingga daya beli masyarakat terjaga dan usaha Pertashop tetap berjalan,” kata Steven.
HPMPI berharap pemerintah segera mengambil langkah strategis agar sektor usaha hilir energi tetap bertahan, sekaligus menciptakan sistem distribusi dan harga BBM yang adil bagi seluruh masyarakat Indonesia.









