KOTA TEGAL, ewarta.co – Sebanyak 748 siswa kelas XII peminatan IPA dari sepuluh SMA di Kota Tegal serentak menjalani Tes Literasi Saintifik Tiga Dimensi (LISA 3D), Kamis (3/9/2026).
Tes tersebut bukan sekadar ujian tambahan bagi siswa. LISA 3D menjadi bagian dari penelitian untuk mengukur kemampuan literasi saintifik siswa SMA secara lebih menyeluruh sekaligus memetakan sejauh mana pembelajaran sains telah membentuk kemampuan berpikir ilmiah mereka.
Pelaksanaan tes melibatkan siswa dari SMA Negeri 1 hingga SMA Negeri 5 Kota Tegal, serta SMA Al-Irsyad, SMA Ihsaniyah, SMA Pius, SMA NU, dan SMA Muhammadiyah.
Guru Besar bidang asesmen pendidikan Universitas Negeri Semarang (Unnes), Prof. Dr. Purwo Susongko, M.Pd., mengatakan LISA 3D mengukur tiga kemampuan utama.
Ketiganya yakni penalaran ilmiah, penyelidikan ilmiah, serta pemahaman terhadap hakikat sains atau nature of science.
"Penalaran ilmiah mulai dari kemampuan membedakan sampai menarik kesimpulan atau melakukan generalisasi. Kemudian penyelidikan ilmiah, bagaimana siswa mampu melakukan penyelidikan. Yang ketiga, bagaimana mereka memahami hakikat sains," kata Purwo, ketika ditemui eWarta.co disela-sela pelaksanaan tes siswa di SMAN 2 Kota Tegal
Menurutnya, tes tersebut penting karena sampai saat ini belum tersedia instrumen standar yang secara khusus dapat digunakan untuk mengukur literasi saintifik siswa SMA.
Padahal, kemampuan tersebut menjadi bagian penting dari tuntutan pendidikan abad ke-21.
Purwo menilai keberhasilan pendidikan tidak cukup hanya dilihat dari nilai rapor atau apakah seorang siswa berhasil naik kelas.
Lebih jauh, harus ada ukuran yang dapat menunjukkan kemampuan nyata siswa setelah mengikuti proses pendidikan selama bertahun-tahun.
"Jangan hanya bicara naik kelas, naik kelas, naik kelas. Itu naik kelas beneran atau standarnya bagaimana? Kita harus tahu anak-anak kita itu bisa sampai apa," ujarnya.
Ia mengatakan negara mengalokasikan anggaran yang besar untuk pendidikan. Karena itu, capaian pendidikan juga harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat melalui data yang terukur.
"Negara ini menggelontorkan hampir 20 persen anggaran negara untuk pendidikan. Masyarakat harus tahu, dana yang digunakan untuk pendidikan itu anak-anak kita bisa apa," sebutnya.
LISA 3D, lanjut dia, diharapkan dapat menjadi salah satu instrumen untuk menjawab kebutuhan tersebut.
Yang menarik, pelaksanaan LISA 3D kali ini juga memperlihatkan adanya perkembangan kemampuan siswa dibandingkan pengukuran sebelumnya.
Purwo mencontohkan pengukuran yang dilakukan di SMA Negeri 2 Kota Tegal sejak 2023.
Pada pengukuran saat itu, capaian literasi saintifik siswa disebut masih berada di kisaran maksimal 40 persen.
Namun, pada pengukuran terbaru, sudah ditemukan siswa yang mampu mencapai 75 persen.
"Saya melihat anak-anak ada yang bisa sampai 75 persen. Jadi artinya ada perubahan," ujarnya.
Perubahan tersebut menjadi salah satu indikator bahwa kemampuan literasi saintifik siswa dapat berkembang melalui proses pembelajaran yang tepat dan berkelanjutan.
Melalui tes yang diikuti 748 siswa tersebut, sekolah diharapkan tidak hanya memperoleh nilai individu siswa, tetapi juga mendapatkan gambaran mengenai peta kemampuan literasi saintifik di masing-masing sekolah.
Data tersebut nantinya dapat menjadi bahan evaluasi untuk melihat bagian mana yang sudah kuat dan aspek mana yang masih perlu diperbaiki dalam pembelajaran sains.
Setelah seluruh rangkaian penelitian selesai, tim akan menyusun studi kelayakan. Hasil penelitian tersebut selanjutnya direncanakan disampaikan kepada Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah untuk dikaji lebih lanjut.
Jika dinilai layak, LISA 3D diharapkan tidak berhenti sebagai penelitian di Kota Tegal, tetapi dapat diimbaskan ke sekolah-sekolah lain di Jawa Tengah.
"Harapannya, sebelum daerah lain melakukan standardisasi, kita mulai dari Jawa Tengah. Ini mudah-mudahan bisa menjadi khas Jawa Tengah," Pungkasnya (David)










