BENGKULU, eWarta.co — Akademi Komunitas Negeri (AKN) Rejang Lebong meluncurkan program pemberdayaan petani di Desa IV Suku Menanti, Kecamatan Sindang Dataran, dengan fokus pada penerapan teknologi pupuk organik berbasis limbah pertanian dan peternakan. Program ini ditujukan untuk meningkatkan kualitas budidaya kopi premium yang menjadi komoditas utama desa tersebut.
Desa IV Suku Menanti dikenal sebagai salah satu sentra kopi terbesar di Bengkulu dengan luas lahan mencapai 700 hektare. Mayoritas penduduk menggantungkan penghasilan dari hasil kebun kopi, sehingga peningkatan produktivitas menjadi kebutuhan mendesak.
Ketua Tim Pelaksana, Kiky Nurfitri Sari, S.P., M.Si., menjelaskan program ini menggandeng dua kelompok mitra: Embek Community dan Kelompok Tani Airlangga. Embek Community selama ini memproduksi pupuk organik berbahan limbah kulit kopi dan kotoran kambing, namun kualitasnya masih belum stabil. AKN menghadirkan teknologi fermentasi berbasis ecoenzyme sebagai aktivator alami untuk memperbaiki mutu pupuk.
“Ecoenzyme mempercepat proses fermentasi dan meningkatkan unsur hara. Dengan teknologi ini, kualitas pupuk bisa lebih konsisten,” ujar Kiky.
Saat ini Embek Community menghasilkan sekitar 500 karung pupuk per bulan dengan harga Rp30.000 per karung. Dengan penerapan teknologi baru, produktivitas ditargetkan meningkat hingga 50 persen. Potensi bahan baku pun sangat besar: limbah kulit kopi mencapai 80–150 kg per hari saat panen, sedangkan kotoran kambing mencapai 560–1.050 kg per minggu.
Anggota tim, Muhammad Hakim, S.Pt., M.Pt., menjelaskan bahwa peningkatan kualitas pupuk ini diharapkan berdampak langsung pada produksi kopi premium yang digarap Kelompok Tani Airlangga. Saat ini produktivitas lahan mereka hanya mencapai 750 kg per hektare akibat degradasi tanah dari penggunaan pupuk kimia. Dengan pupuk organik, AKN menargetkan peningkatan produksi minimal 30 persen.
Selain pupuk, petani juga dibekali teknik budidaya organik, panen petik merah, dan penanganan pascapanen melalui sistem terkontrol. “Kami menargetkan 80 persen petani beralih ke panen petik merah untuk menghasilkan kopi premium berdaya saing,” jelas Andika Prawanto, S.Si., M.Si.
Program pemberdayaan ini juga dilengkapi pelatihan manajemen usaha, penyusunan SOP produksi, strategi branding, promosi digital, hingga akses pasar. Mitra didampingi membuat akun media sosial, toko daring, serta desain kemasan untuk meningkatkan nilai jual produk.
Pada tahun pertama, AKN memberikan dukungan peralatan seperti mesin pencacah kompos, mixer pengaduk 100 kg, serta rumah jemur berkapasitas 2 ton. Empat mahasiswa Program Studi Budidaya Tanaman Hortikultura turut dilibatkan dalam pendampingan.
Program ini sejalan dengan Asta Cita pembangunan nasional, khususnya pada sektor kemandirian pangan, serta mendukung pencapaian SDGs poin 1 (Tanpa Kemiskinan), poin 2 (Tanpa Kelaparan), dan poin 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi).
“Kami ingin Desa IV Suku Menanti menjadi desa percontohan yang memadukan riset dan pemberdayaan masyarakat menuju pembangunan berkelanjutan,” tutup Kiky.
Program ditargetkan mampu meningkatkan pendapatan petani hingga 25–30 persen, membentuk unit usaha mandiri, serta menghasilkan pupuk organik dan kopi premium yang mampu bersaing di pasar lokal maupun regional.









