KMHE 2026 di UNEJ Resmi Ditutup: UNDIP dan ITS Dominasi Podium, Insiden Mobil Mati Hingga Terguling Warnai Sirkuit

Create: Mon, 05/10/2026 - 06:47
Author: Redaksi

 

JEMBER, ewarta.co – Gelaran bergengsi Kontes Mobil Hemat Energi (KMHE) 2026 yang berlangsung di sirkuit Universitas Jember (UNEJ) resmi berakhir. Dalam ajang ini, kontingen Universitas Diponegoro (UNDIP) dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) sukses mendominasi podium juara.

​Kompetisi inovasi teknologi otomotif nasional yang berlangsung ketat selama beberapa hari tersebut resmi ditutup melalui closing ceremony di Gedung Auditorium UNEJ, Minggu malam (4/10/2026).

​Pada KMHE 2026, UNDIP mengukuhkan dominasinya di kategori Prototype. Sementara itu, ITS sukses menguasai panggung kehormatan untuk kategori Urban Concept. Di sisi lain, tim tuan rumah—Titen dan Tawang Alun dari UNEJ—turut memberikan performa terbaik mereka di hadapan pendukung sendiri di Kampus Tegalboto.

​Ketua Panitia KMHE 2026, Fendi Setyawan, menyampaikan rasa syukur atas kelancaran seluruh tahapan kompetisi. Menurutnya, dinamika persaingan di lintasan tahun ini berlangsung sangat seru dan penuh tantangan.

​"Kita semua telah menyaksikan betapa seru dan luar biasanya para kontestan saat berlaga. Ada yang mesinnya mati saat start, ada kendaraan yang sempat terguling akibat bersenggolan, dan berbagai tantangan lainnya. Namun, itulah dinamika dan keseruan dari kompetisi ini," ujar Fendi.

​Apresiasi senada disampaikan Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kemdiktisaintek, Beny Bandanadjaja. Ia menegaskan bahwa KMHE bukan sekadar ajang balap efisiensi bahan bakar, melainkan wadah riset nyata bagi mahasiswa.

​"Proses seperti ini akan menjadi bekal berharga ketika mahasiswa memasuki dunia kerja dan industri. Arena yang disiapkan perguruan tinggi ini harus dimaksimalkan untuk mengembangkan potensi seluruh finalis," kata Beny.

​Ajang tahunan ini ditutup secara resmi oleh Rektor Universitas Jember, Iwan Taruna. Ia mengaku bangga atas semangat pantang menyerah dan sportivitas yang ditunjukkan para peserta dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

​"Kemajuan teknologi transportasi tidak hanya dinilai dari kecepatan kendaraan, tetapi juga dari kemampuannya mengelola energi secara efisien. Apa yang hari ini masih berupa prototipe, bukan tidak mungkin berkembang menjadi solusi nyata bagi teknologi transportasi Indonesia di masa depan," tegas Iwan.

​Rektor juga berpesan, meski kompetisi telah berakhir, jejaring dan kolaborasi antar-mahasiswa serta antar-perguruan tinggi harus terus berlanjut. (Hafit)