BENGKULU, eWarta co – Wakil Ketua Indonesian National Shipowners Asosiation (INSA) (Organisasi Industri Pelayaran dan Pengusaha Kapal Indonesia) Edi Hariyanto, S.P., M.M., menyuarakan keprihatinan atas lambatnya progres pengerukan alur Pelabuhan Pulau Baai oleh Pelindo Bengkulu.

Ia menyebutkan hingga saat ini, belum ada hasil signifikan yang terlihat meskipun pengerukan menggunakan alat berat telah dilakukan lebih dari satu minggu.
“Pengerjaan pengerukan dimulai sekitar tanggal 28, sekarang sudah tanggal 8. Sudah seminggu lebih tapi belum ada kapal yang bisa masuk atau keluar dari alur pelabuhan,” kata Edi.
Menurutnya, meskipun alat berat yang digunakan untuk pengerukan telah ditambah menjadi tiga unit, termasuk alat penyedot pasir, pekerjaan di lapangan masih jauh dari kata maksimal. Salah satu indikatornya adalah batalnya uji coba keberangkatan KM Pulau Telo menuju Pulau Enggano hari ini, karena dianggap belum aman oleh pihak terkait.
“Kapten kapal tentu mempertimbangkan keselamatan. Kalau alur belum aman, mereka tidak akan mengambil resiko,” lanjut Edi.
Ia menegaskan bahwa solusi utama untuk permasalahan ini adalah segera mendatangkan kapal keruk khusus, bukan hanya mengandalkan ekskavator di darat. Ia menyayangkan keterlambatan Pelindo dalam melakukan langkah strategis ini, mengingat pengerukan rutin seharusnya sudah menjadi bagian dari perawatan pelabuhan.
“Ini bukan kejadian pertama, pendangkalan hampir setiap tahun terjadi, pengerukan juga sudah sering dilakukan. Mestinya, Pelindo sudah paham prosesnya. Pertanyaannya, mau atau tidak mereka serius menanganinya?,” tegas Edi.
Pengerukan ini sendiri menjadi bagian penting dari rencana revitalisasi Pelabuhan Pulau Baai yang sudah dipaparkan oleh Pelindo kepada Gubernur Bengkulu, Helmi Hasan.
Dalam rencana tersebut, pengerukan alur pelabuhan menjadi prioritas utama sebelum pembangunan infrastruktur lain seperti dermaga curah cair, pelebaran lapangan, penumpukan, hingga penambahan fasilitas pendukung kapal.
“Kalau alurnya saja masih dangkal dan tertutup, bagaimana mungkin kita membangun fasilitas lainnya? Ini pondasi utamanya,” ujarnya.
Edi juga mengungkapkan bahwa terhambatnya operasional pelabuhan berdampak langsung pada masyarakat luas. Tidak hanya pengiriman logistik ke Pulau Enggano yang akan terganggu, tetapi juga masyarakat Bengkulu keseluruhan, pasalnya, pengiriman beras, pupuk, dan kebutuhan pokok, kebutuhan bangunan, BBM dan lainnya. Para petani, buruh pelabuhan, sopir angkutan, hingga perusahaan pengapalan batu bara turut merasakan dampaknya.
“Kita bisa bayangkan, berapa banyak pihak yang bisa kehilangan penghasilan akibat terhambatnya kegiatan di pelabuhan. Ini menyangkut perekonomian seluruh Provinsi Bengkulu,” tambahnya.
Ia mengingatkan bahwa Pelabuhan Pulau Baai adalah satu-satunya pintu utama aktivitas ekonomi di Bengkulu. Jika tidak segera ditangani secara serius, Bengkulu akan semakin tertinggal dibandingkan provinsi lain.
“Kami minta Pelindo Lebih Serius! Kalau memang punya anggaran satu triliun seperti yang dipresentasikan, tunjukkan dengan aksi nyata, ini terkesan PHP doang. Jangan biarkan masyarakat Bengkulu jadi korban,” tutupnya.









