BENGKULU,eWARTA.co -- Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bengkulu merilis nilai inflasi pada bulan Desember 2021 sebesar 0,39 persen.
Kepala BPS Provinsi Bengkulu Win Rizal mengatakan nilai infasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya beberapa kelompok pengeluaran.
Inflasi bulan ini utamanya disebabkan oleh naiknya tarif angkutan udara, harga minyak goreng, rokok kretek filter, seng, nasi dengan lauk, telur ayam ras, buku tulis bergaris, kopi siap saji, daging ayam ras dan shampo.
Sementara pengendali besarnya inflasi dipengaruhi dengan turunnya harga cabai merah, daging sapi, bawang merah, bawang putih, beras, jeruk, daun bawang, susu bubuk untuk balita, vitamin dan emas perhiasan.
"Kelompok dengan inflasi tertinggi adalah pengeluaran rekreasi, olahraga dan budaya sebesar 1,10 persen. Diikuti kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga 0,67 persen dan kelompok pengeluaran transportasi 0,50 persen lalu kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran 0,47 persen," kata Rizal, Senin (3/1/22).
Tak hanya itu, kelompok makanan, minuman dan tembakau juga menyumbang inflasi sebesar 0,46 persen diikuti kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya 0,36 persen lalu kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga 0,28 persen kemudian kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan 0,19 persen juga kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,06 persen.
"Sementara pada kelompok pengeluaran pengeluaran kesehatan mengalami deflasi sebesar 0,12 persen dan kelompok pengeluaran yang stabil adalah kelompok pengeluaran pendidikan," ujar Rizal.
Dengan inflasi sebesar 0,39 persen di bulan ini, lanjutnya maka besarnya laju inflasi tahun kalender sebesar 2,42 persen, dan inflasi tahunan sebesar 2,42 persen.
BPS mencatat sepanjang 2021 di kota Bengkulu telah terjadi inflasi sebesar 2,42 persen atau terjadi kenaikan indeks harga konsumen dari 104,33 pada bulan Desember 2020 menjadi 106,85 pada bulan Desember 2021. Inflasi tertinggi pada tahun 2021 terjadi pada bulan November sebesar 0,52 persen.
"Sementara deflasi tertinggi tahun ini terjadi pada bulan Juli sebesar 0,12 persen," pungkas Rizal. (Bisri)









