Izin Konsesi di Kawasan Hutan Bengkulu Ancam Habitat Satwa Liar 

Medis Veteriner Balai Konservasi Sumber Daya Alam wilayah Bengkulu, Erni Suyanti Musabine
Tags

 

BENGKULU,eWARTA.co -- Pemerhati lingkungan menilai izin konsesi aktivitas pertambangan dan pembangunan infrastruktur mengancam habitat satwa liat dan tutupan hutan Bengkulu.

"Selain merusak ekosistem hutan, aktivitas manusia di kawasan konservasi tentu mempersempit ruang gerak hewan liar yang dilindungi," kata Medis Veteriner Balai Konservasi Sumber Daya Alam wilayah Bengkulu, Erni Suyanti Musabine, Kamis (28/1/2021).

Erni mengatakan konsesi tersebut menjadi penyebab terbenturnya estimasi habitat prioritas nasional seperti gajah sumatera dan harimau sumatera dan menyebabkan keduanya semakin terancam punah. 

Sementara itu Direktur Genesis Bengkulu, Uli Arta Trisnawati Siagian mengatakan, adapun ekosistem wilayah hutan dan hewan lindung yang terancam berdasar analisa lapangan yakni kawasan Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS) meliputi ; hutan produksi terbatas (HPT) Lebong - Kandis, HPT Air Ipuh, HPT Air Rami, HPT Air Teramang dan kawasan penduduk transmigrasi PT Lapindo dengan luas 410.843 hektare atau 45 persen dari total hutan di wilayah administrasi Bengkulu.

Seluas itu, kata Uli dialokasikan untuk aktivitas 11 tambang 97.555 ha, 5 perusahaan sawit 3.454 ha, izin usaha tambang panas bumi 245.834 ha, dan 64.000 ha sebagai izin usaha pemanfaatan hutan kayu yang akan diekspor keluar negeri. 

"Belum lagi luasan izin pembangunan infrastruktur yang bakal  turut membelah kawasan ini dengan dalih konektivitas dan sebagainya," kata Uli. 

Uli mengatakan izin konsesi berakibat pada bencana hidrologi banjir dan longsor sepanjang tahun dan dari aktivitas itu masyarakat tidak mendapat apa-apa. 

"Kalau kami lihat dari tutupan lahan sekarang, hampir 60 sampai 70 persen kawasan hutan sudah rusak,” jelas katanya. (Bisri)

Ucapan Hari Raya Idul Fitri 1442 H