Menyimak Adat 'Semendo' di Seluma: Penentu Kedudukan Sebelum Prosesi Ijab Kabul 

ilustrasi. Pengantin pria dengan pakaian adat Bengkulu
ilustrasi. Pengantin pria dengan pakaian adat Bengkulu
Tags

 

BENGKULU,eWARTA.co -- Sebelum melaksnaakan ijab dan kabul pada pelaksanan bimbang (Pesta Pernikahan) terdapat beberapa rangkaian yang dilakukan antara lain rasan bekulo. Rasan bekulo ini merupakan prosesi yang di dalamnya terdapat penentuan kedudukan antara anak yang telah melaksanakan ijab dan kabul. Untuk menentukan kedudukan tersebut dinamakan "Semendo". 

Suardi Mantan Kades Dusun Tengah mengatakan, semendo terdiri dari lima macam, bentuk dari uang adat. Semendo yang pertama, uang 10 rupiah siwar sebilah (keris sebilah) atau nama lain yang dimaksud dengan semendo buntalan kadut atau dengan sebutan lain semendo tidak pakai adat.

"Artinya utang tingal piutang tingal, sepengetahuan perempuanya itu pria itu sendiri, dia tidak tahu dimana keberadaan keluaraga pria atau orang tuanya. Yang dia tau hanyalah pria itu sendiri. Jika seandainya pada saat sudah punya harta kemudian punya anak tuhan menghendaki mereka saqak (cerai) maka seperti apa si pria datang seeprti itu juga dia pergi, dan seluru harta dan anak tingal dengan si perempuan," jelasnya, Sabtu (26/9/2020).

Yang ke 2 uang 20 rupiah siwar sebilah (keris sebilah), semendo turut tino (perempuan), dengan sebutan lain semendo pakai adat semendo turut perempuan. Pihak pria tingal di rumah perempuan kemudian seluruh modal usaha itu tergantung dari pihak perempuan, segala modal usaha menjadi tangung jawab orang tua perempuan.

"Jika nanti saqak/cerai secara adat maka hartanya dibagi tiga, sebagia kembalikan ke modal. Kemudian sisanya dibagi antara si pria dan perempuan," lanjut Suardi.

Kemudian semendo rajo-rajo, uang 40 rupiah siwar sebilah (keris sebilah), dengan sebutan lain "semendo banyu napal betiris" yang melambangkan keadilan dan saling menguatkan.
 
"Jika mana dia saqak/cerai secara adat maka hartanya dibagi dua. Intinya keadilan, semuanya dibagi menjadi dua, inilah yang paling sering dipakai di sebagian besar masyarakat Seluma," ucapnya.

Kemudian uang 60 rupiah siwar sebilah (keris sebilah) atau namanya semendo turut lanang/lelaki atau dengan sebutan lain "semendo teambiak anak".

"Perempuannya itu ditingal di rumah pria. Seluruh modal usaha itu dari pihak pria jika mana dia saqak/cerai secara adat maka hartanya dibagi tiga, sebagian dikembalikan ke modal usaha orang tua pria, dan sisahnya dibagi antara si pria dan perempuan itu," paparnya.

Kemudian uang 80 rupiah. Disebut dengan "semendo buntalan kadut" artinya utang tingal piutang tingal sepengetahuan pria, perempuannya sendiri, dengan sebutan lain "semendo masuak kampung". 

"Jika mana dia saqak/cerai secara adat maka seluruh harta tingal di pihak pria dan wanita pulang ke orang tuanya sama seperti dia datang dahulu," jelas Suradi lebih jauh.
 
Prosesi ini sebelum melakukan bimbang ijab dan kabul,  "Semendo" penentuan kedudukan atau tempat tingal, dan adat ini secara garis besar yang dipakai di Seluma, terutamanya di kecamatan Lubuk Sandi, secara adat istiadat yang dipakai sejak zaman nenek moyang dahulu. (nor)