Hari ini profesi jurnalis berubah wujud, bukan lagi sekadar pencari berita, tetapi pemasok konten mentah gratis untuk ekosistem kreator digital.
Kita menghabiskan waktu verifikasi data, mengulik dokumen, mewawancarai narasumber berjam-jam, bahkan kadang menembus risiko di lapangan. Tapi pada akhirnya? Potongan informasi itu dipungut, diringkas, dibumbui, lalu disajikan ulang oleh kreator dengan nama mereka di bingkai paling besar.
Sebuah paradoks, teman-teman jurnalis mendambakan akurasi, mereka mendulang atensi. Kami berjibaku dengan etika, mereka berlari dengan algoritma. Kami memikirkan dampak, mereka memikirkan monetisasi. Ironisnya, panggung justru menyala lebih terang untuk mereka. Sementara kami yang menyusun fondasi, hilang di kolom sumber kecil yang jarang dibaca.
Dan bagian paling pahitnya adalah relasi ekonomi yang timpang. Berapa banyak skrip video, reels viral, atau opini panas yang sejatinya berasal dari liputan kami? Banyak. Lalu siapa yang kebagian AdSense, endorse, brand deal, dan sawer? Bukan kami. Kami digaji per artikel, sementara mereka dibayar per klik. Kami hitung kata, mereka hitung cuan.
Tidak ada yang salah dengan kreator konten. Mereka adalah produk zaman. Masalahnya adalah sistem yang menempatkan jurnalis sebagai tambang data gratis, sementara hasil olahannya dijual kembali oleh orang lain sebagai komoditas hiburan. Kami bukan iri pada kesuksesan mereka, kami lelah pada ketimpangan ini. Kerja risetnya kami, narasinya kami, narasumbernya kami tapi kapitalisasinya mereka.
Pada akhirnya, yang paling memilukan bukan sekadar soal uang, tetapi soal pengakuan dan keadilan proses. Jurnalisme butuh waktu, verifikasi, dan tanggung jawab moral. Konten kreator butuh kecepatan dan sensasi. Dua dunia ini seharusnya bisa beriringan, bukan timpang. Tetapi ketika yang melelahkan itu kami, yang memanen itu mereka ada yang patah dalam rantai ini.
Maka ini bukan rengekan, ini hanya sekadar elus dada. Jika jurnalis terus diposisikan sebagai buruh riset tanpa panggung, sementara orang lain bebas memanen dan memonetisasi hasilnya, maka generasi pewarta berikutnya mungkin tidak lagi tertarik masuk ke medan ini. Dan ketika itu terjadi, yang paling rugi bukan hanya jurnalis tetapi publik, yang suatu hari mungkin hanya akan punya konten, tanpa lagi punya fakta.
***
Rili Susanto, jurnalis senior.









