Serangan Covid-19, Keringat Nakes dan Air Mata Keluarga Pasien

Serangan Covid-19, Keringat Nakes dan Air Mata Keluarga Pasien

 

BENGKULU,eWARTA.co -- Pemulasaran jenazah pasien Covid-19 oleh sembilan tenaga kesehatan (Nakes) Rumah Sakit Daerah Hidayah dan Doa (RSHD) Kota Bengkulu terpaksa dilakukan di luar ruangan rumah sakit.   

"Tak ada ruang khusus. Kami kehabisan ruangan untuk menampung semua pasien COVID," kata salah satu Nakes RSHD pada eWarta.co, Jumat pagi (9/7/2021). 

Sebanyak 30 ruang isolasi di RSHD penuh. Situasi ini memaksa manajemen RSHD menempatkan beberapa pasien di tenda khusus, yang dibuat di luar ruangan. Para nakes berjibaku menangani pasien Covid-19 yang bisa mencapai lima orang per hari.

Proses pemulasaran tak urung membuat masyarakat di sekeliling RSHD penasaran. Letak rumah sakit yang berada di pusat kota mengundang puluhan pengendara untuk menyaksikan kejadian duka itu. Suara sirine mengiringi pemulasaran yang tak lebih dari setengah jam pasca pasien dinyatakan meninggal dunia.  

Tanpa membuka Alat Pelindung Diri (APD, petugas memandikan jenazah dengan cara mengucurkan air secara merata ke seluruh tubuh, bahkan jika tak memungkinkan, petugas memandikannya dengan tayamum. Kemungkinan terparah, jenazah tidak perlu dimandikan atau ditayamumkan jika kondisinya dapat membahayakan petugas dengan ancaman kesehatan tinggi. 

Setelah dikafani, jenazah dimasukkan ke dalam kantong yang tidak tembus air lalu diletakkan ke dalam peti dengan posisi dimiringkan ke kanan. Dengan demikian, saat dikuburkan jenazah menghadap ke arah kiblat. 

Dalam protokolnya, pemakaman dapat ditutup dengan bahan kayu atau bahan lain yang tidak mudah tercemar. Jenazah yang sudah dibungkus tidak diperkenankan dibuka lagi kecuali dalam keadaan mendesak seperti autopsi, dan hanya dapat dilakukan petugas. Jenazah disemayamkan tidak lebih dari 4 jam. 

Salat jenazah dilakukan di tempat yang aman dari penularan COVID-19 dan dilakukan oleh minimal satu orang. Jika tidak memungkinkan, jenazah boleh disalatkan di kuburan sebelum atau sesudah dimakamkan. 

Masyarakat terkhusus keluarga, hanya pasrah melihat proses sakral yang harusnya dilakukan dengan suka duka ini. Kehilangan orang yang dicintai, tanpa melihat tatap wajah untuk terakhir kalinya. 

Hanya teriakan Nakes bahwa yang tak bermasker dilarang mendekati komplek rumah sakit. Mereka terus disemprot dengan disinfektan. Seluruh tubuh, bercampur peluh dan kelelahan. 

Tak ada kata-kata. Suara isak tangis mungkin hanya bisa dilihat di rumah duka. Hanya kerabat jauh yang tampak hadir mengawal pemulasaran hingga pemakaman, lantaran keluarga tetap diminta untuk tetap isolasi. (Bisri)