Suku Rampi Terancam Punah, Pengrajin Kain Kulit Beringin Juga Sayup Menghilang

Jurnalis eWarta.co (Kanan) mengenakan pakaian dari kulit beringin Suku Rampi
Jurnalis eWarta.co (Kanan) mengenakan pakaian dari kulit beringin Suku Rampi

 

Oleh: Yustus Bunga, SP (Bagian II)

SULSEL,eWARTA.co -- Melestarikan tradisi dan budaya kini menjadi tantangan tersendiri di jaman modern ini. Dengan menelusuri Kecamatan Rampi, Jurnalis media ini berkunjung ke pembuat pengrajin kulit kayu, untuk tukar pikiran, baik secara adat maupun lembaga kesenian dan pengrajin Rampi yang belum terstruktur kelompoknya.

Kalau melihat secara langsung di Desa Onondowa Kecamatan Rampi, para generasi muda tak tertarik menekuni kerajinan ini lantaran harga kain kulit kayu murah, sementara, jumlah pengrajinnya kini terus berkurang karena banyak yang sudah berusia tua bahkan ada yang sudah meninggal. Kain ini biasanya dipakai untuk baju sehari-hari, pernikahan hingga upacara adat dan pesta-pesta lainnya.

Herlina Shinta dan para tua-tua adat (Tokey Bola’) pada media ini menuturkan, mulai prihatin melihat dan akan kepunahan pengrajin baju, celana, topi, selendang, ikat kepala dari kulit kayu ini. Ibu Shinta panggilan akrabnya mewanti-wanti akan kepunahan pengrajin kulit kayu, karena kekurangan modal dan tidak adanya perhatian Pemerintah Daerah Luwu Utara (Lutra).

"Kami mengharapkan bimbingan dari pemda setempat, pandangan dan motivasi untuk membangun kelompok pengrajin yang berada di Desa Onondowa untuk generasi pelanjut," harapnya.

"Takutnya pengrajin Kulit kayu di kampung kami bisa punah, karena belum ada generasi to Rampi yang bisa melanjutkan yang saya tekuni peninggalan dari nenek moyang kami,” kata Shinta lagi.

Membuat kain dari kulit kayu beringin bukanlah mata pencaharian utama, jadi produksinya masih sangat terbatas.

Proses produksi dari bahan setengah jadi menjadi barang siap pakai pun masih dilakukan secara tradisional. Bahkan, pewarnaan menggunakan bahan baku alam yang berasal dari berbagai jenis tanaman, misalnya indigo, turi, mengkudu, dan daun mangga. 

Herlina Shinta hanya dibantu oleh suami dan anak-anaknya bila datang lagi di Onondowa, dan berharap Pemerintah Kabupaten Luwu Utara bisa membantu pendirian pondok kerja/ sekretariat untuk tempat membuat tenunan dari kulit kayu.

Supaya kedepannya, Herlina Shinta berharap dapat terus melestarikan dan menarik anak-anak bahkan muda-mudi untuk menjadi pengrajin kain kulit kayu. Lainnya, dia juga ingin membangun koperasi dan galeri untuk mereka agar, dapat memamerkan produknya, serta mendapatkan suntikan modal.

Supaya produksi berkesinambungan dan tidak punah, dia juga menggalakkan penanaman kembali kayu beringin yang selama menjadi bahan baku kain kulit kayu tradisional ini. (Bersambung). (yus)