BENGKULU,eWARTA.co -- Survei Bank Indonesia (BI) Perwakilan Bengkulu mencatat dampak COVID-19 mampu melumpuhkan transaksi perbankan di Provinsi Bengkulu hingga Rp8,3 miliar setiap harinya.
Kepala Perwakilan BI Joni Marsius mengatakan survei yang pihaknya lakukan terhadap prilaku perbankan di masa pandemi COVID-19 ini berdampak sangat signifikan.
Dari tingkat kunjungan nasabah per hari di kantor bank tercatat hanya mencapai 225 orang. Selain itu, 1 kantor cabang bank terakumulasi hanya mampu melayani radius 102 Kilometer.
"Di Provinsi Bengkulu sendiri, pelaku sektor jasa keuangan memiliki peran yang sangat vital dalam perekonomian, khususnya sebagai agent of development," kata Joni, Selasa (3/8/21).
Joni mengungkap sektor perbankan dan industri jasa keuangan menjadi ujung tombak dari kesuksesan program pemulihan ekonomi nasional (PEN) di masa pandemi COVID-19 saat ini.
Sehingga kata dia, upaya vaksinasi bagi pelaku perbankan perlu dilakulan demi membentuk kekebalan imun tubuh pelaku perbankan dan dapat mengoptimalkan pelayanan di masa pandemi.
Apalagi saat ini sektor jasa keuangan telah berkontribusi dalam penyaluran bantuan sosial, pemberian kredit UMKM, serta restrukturisasi kredit yang menjadi bagian dari program tersebut.
Hal ini terbukti dari sisi sistem pembayaran tunai, perbankan Provinsi Bengkulu pada tahun pertama pandemi mampu memutar peredaran uang sebesar Rp 10,83 triliun.
Demikian dari segi penyaluran dana, total penyaluran kredit dan pembiayaan perbankan telah mencapai Rp 31,78 triliun. Angka tersebut telah mencapai pangsa 68,58% dari total perekonomian di Provinsi Bengkulu (PDRB tahun 2020).
Untuk sistem pembayaran non tunai, perbankan di Provinsi Bengkulu memiliki peran dalam penyelesaian settlement pembayaran baik dari Sistem Kliring Nasional bank Indonesia maupun real Time Gross Settlement.
"Sehingga jika tidak ditangani, operasional bank akan terhenti dan berdampak pada layanan bank yang lebih jauh akan menghambat PEN," pungkas Joni. (Bisri)









