BENGKULU,eWARTA.co -- Adanya pandemi COVID-19 di Provinsi Bengkulu membuat perekonomian dari berbagai sektor terpuruk. Namun memasuki tahun kedua sejak 2020, perekonomian di wilayah ini mulai tumbuh positif ditopang oleh pengadaan barang dan jasa sektor kesehatan dan aktivitas sosial.
Koordinator Fungsi Neraca Wilayah dan Analisis Statistik Badan Pusat Statistik (BPS) Teuku Fahrulriza, menyebutkan Ekonomi Provinsi Bengkulu pada Tahun 2021 mengalami pertumbuhan sebesar 3,24 persen.
Pertumbuhan terjadi didukung oleh pengadaan jasa kesehatan dan kegiatan sosial sebesar 10,58 persen, diikuti oleh pengadaan listrik dan gas sebesar 8,09 persen, juga pertambangan sebesar 6,94 persen.
"Pertumbuhan terjadi pada hampir seluruh lapangan usaha, kecuali lapangan usaha Jasa Perusahaan yang mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 0,81 persen," katanya, Selasa (8/2/22).
"Sementara dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi terjadi pada aktivitas ekspor barang dan jasa sebesar 6,52 persen. Namun pada lapangan usaha jasa perusahaan justru mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 0,81 persen," lanjut Fahrul.
Perekonomian Provinsi Bengkulu masih didominasi oleh Lapangan Usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan sebesar 28,21 persen. Diikuti oleh Perdagangan besar dan eceran sebesar 14,40 persen, administrasi pemerintahan sebesar 9,63 persen.
"Peranan ketiga lapangan usaha tersebut dalam perekonomian Provinsi mampu mencapai 52,23 persen," kata Fahrul.
Perekonomian Provinsi Bengkulu Tahun 2021 berdasarkan besaran Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp 79,58 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp 47,84 triliun.
Ekonomi di Pulau Sumatera pada Tahun 2021 tumbuh sebesar 3,18 persen, dengan kontribusi Provinsi Bengkulu terhadap PDRB Pulau Sumatera sebesar 2,16 persen.
Lambatnya pertumbuhan ekonomi membuat Provinsi Bengkulu menempati posisi ke 7 dari 10 provinsi di Pulau Sumatera dengan pertumbuhan sebesar 3,24 persen. (Bisri)









