Atlet Renang Bengkulu Berpeluang Gagal Tampil di PON Papua

Ketua Umum Persatuan Renang Seluruh Indonesia (PRSI) Bengkulu, Erna Sari Dewi
Tags

 

BENGKULU,eWARTA.co -- Atlet Cabang olahraga (Cabor) asal Bengkulu berpeluang gagal maju dalam kompetisi Pekan Olahraga Nasional (PON) Papua Oktober 2021 mendatang. 

Hal ini lantaran tidak adanya anggaran dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bengkulu untuk operasional keberangkatan kontingen dan alasan keamanan yang kurang mendasar sehingga tidak hanya Cabor renang tapi juga berimbas pada tidak berangkatnya Cabor lain di kompetisi olahraga nasional ini.

Ketua Umum Persatuan Renang Seluruh Indonesia (PRSI) Bengkulu, Erna Sari Dewi menyayangkan langkah Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Bengkulu melepas atlet renang atas nama Sofie Kemala Fatiha, seorang atlet potensial yang pernah memenangkan 3 kali medali emas untuk Bengkulu. 

"Sangat disayangkan jika alasannya anggaran padahal atlet ini berpotensi menang bilang menbgikuti PON," kata Erna, Selasa (15/6/21).

Erna mengungkap anak asuhnya ini seolah digantung dengan putusan KONI yang tak memberangkatkannya sehingga berpeluang gagal memperkuat Provinsi Bengkulu pada PON dan memilih mengundurkan diri dari Bengkulu. 

"Disayangkan, ya. Sudah punya atlet yang bagus dan potensial tapi justru dicampakkan dan tak diberi kepastian diri memperkuat Bengkulu di ajang olahraga," kata Erna. 

"Bahkan hak-haknya juga tidak diberikan setelah menang di ajang Pekan Olahraga Wilayah Sumatera ke 10 tahun lalu dan lebih parahnya saat ini kontraknya juga tidak mau dicabut oleh KONI sehingga anak ini tidak tau harus bagaimana," tambah Erna. 

Padahal jika diberi keputusan kontrak, Sofie sendiri kata Erna justru mendapat tawaran untuk membela tuan rumah PON, Papua. 

Erna menyesalkan tindakan Pemprov Bengkulu yang tak memperjuangkan keberangkatan atlet dari beberapa Cabor yang dinyatakan lolos PON. Dari keseluruhan yang dinyatakan berangkat ke laga tersebut, KONI menunjuk 32 atlet dan 52 lainnya dibatalkan. 

"Jika alasannya anggaran yang nilainya cuma Rp4 miliar, kami malah siap jika harus patungan atau mencarikan sumber dananya yang kabarnya butuh Rp10 miliar," kata Erna. 

Ketum PRSI ini juga meminta agar keputusan KONI dalam membina atlet potensial selalu dikomunikasikan kepada semua pengurus Cabor yang ada. Sehingga kedepannya dalam perhelatan olahraga nasional, Provinsi Bengkulu tidak hanya lagi dikenal dengan korupsinya melainkan potensi dan kompetensi atletnya.

"Evaluasilah pengurus KONI kedepan supaya tidak menyia-nyiakan potensi yang ada. Jangan seolah Gubernur Bengkulu ini tidak dukung atletnya sendiri," kata Erna. (Bisri)