Emi Fajar Wonk, Menjual Berbagai Kerajinan Tangan dari Kulit Kayu dan Batang Pisang 

Create: Sun, 20/03/2022 - 16:31
Author: Alwin Feraro
Tags

 

BENGKULU, eWARTA.co - Usaha kerajinan tangan rumahan dari kulit kayu dan juga batang pisang yang dikenal dengan 'Emi Fajar Wonk' milik Emi Kusmiati (46) dan suaminya yang berlokasi di Jalan Korpri Raya, Nomor 697, Rt 12/Rw 03, Kelurahan Bentiring, Kecamatan Muara Bangka Hulu, Kota Bengkulu, saat ini telah berkembang pesat. Beragam jenis kerajinan mulai dari souvernir, lukisan, tas, peci, topi, meja, kursi, dompet, ransel, tulisan kaligrafi dan lain sebagainya.

Sementara itu, usaha kerajinan yang dimulai sejak tahun 2005  hanya dari anyaman buah-buahan kering diantaranya buah bacangloa, cemara gunung dan lain-lain yang dibentuk seperti bunga. Kemudian dengan berjalannya waktu mereka membuat variasi kerajinan tangan dari kulit kayu dan batang pisang.

"Usaha saya ini sudah lama sejak tahun 2005 itu buah Bacang Loa dan Cemara Gunung yang dikeringkan dan dibentuk vas bunga, kemudian di tahun 2009 saya membuat variasi kerajinan dari kulit kayu, gedebog pisang dan kain besurek seperti mulai dari Souvenir hingga lukisan ada Topi, Peci, Tas, Kotak Pensil dan lain sebagainya" kata Emi Kusmiati, Minggu (20/3/2022).

Kemudian, yang menjadi produk unggulan adalah kerajinan tas. Tas tersebut, dijual dengan harga Rp 50 ribu rupiah sampai dengan jutaan rupiah dan tergantung item serta bahan yang digunakan.

"Tas kecil mulai dari 50 ribu, peci 35 ribu dan peci biasanya 1 toko ngambil 50 pcs, kemarin tas sama lukisan yang paling mahal, karena dari kulit asli dari sapi dan kambing yang dikombinasikan dengan kulit kayu. Jadi, pada waktu event trend ekspor ada yang dijual Rp 1,6 juta untuk tas, serta lukisan ada yang dari Rp 2,5 juta.” Tambahnya. 

Selain menjual produk di rumah, dirinya juga memiliki sentra kerajinannya di Anggut, kota Bengkulu dan juga memasarkan produknya secara online  baik itu melalui Shoope, Facebook, Whatsaap Business, serta Instragram. Sehingga pemasaran produknya sudah antar provinsi bahkan luar negeri. 

"Pemasarannya sudah sampai ke Jambi, Kalimantan, Bali dan lainnya dan kalau ekspor belum, akan tetapi kalau dengan sistem beli putus sudah sampai ke Thailand, Iran, dan Singapura", jelasnya. 

Untuk saat ini omzet yang di dapatkan Emi  juataan perbulan nya. Namun, mengalami penurunan 50 persen dibandingkan omzet sebelum pandemi serta masih terkendala di SDM atau tenaga kerja. 

“Jadi, kemarin omzetnya itu dari Rp 8-13 juta per bulan dan pandemi covid ini turun 50 persen serta kurangnya tenaga kerja, dikarenakan anak sekolah sekarang itu yang tamat dari kejuruan lebih memilih bekerja di Indomaret, dari pada mengasah ilmunya", pungkasnya. (Septi).