130 Lapak Pasar Senggol Masih Kosong, Panitia Tetap Optimis

Tags

 

Kotamobagu, eWarta.co – Menjelang pembukaan Pasar Senggol, panitia menghadapi tantangan signifikan. Dari 288 lapak yang tersedia, sekitar 130 lapak masih belum terisi. Kondisi ini menjadi perhatian panitia yang sebelumnya mengandalkan antusiasme pedagang dan pengunjung untuk menyemarakkan pasar tahunan tersebut.

Persiapan Pasar Senggol telah berlangsung beberapa hari terakhir. Deretan tenda warna-warni telah berdiri, kabel listrik dipasang, dan panggung kecil mulai dirakit. Meski tampak siap dari kejauhan, sejumlah tenda masih kosong dan menimbulkan kekhawatiran panitia.

Advetorial

“Kami sudah melakukan sosialisasi kepada pedagang sejak lama, namun sampai sekarang masih banyak yang kosong,” ungkap Ketua Asosiasi Pedagang Pasar Sarjan Korompot, Om Dade, saat memantau persiapan pasar.

Pasar Senggol dikenal sebagai ruang perayaan rakyat. Saat malam tiba, lokasi ini biasanya dipadati pengunjung. Lampu-lampu menghiasi lorong tenda, aroma makanan bercampur dengan musik dari wahana anak-anak, sementara pedagang pakaian, makanan, dan aksesoris bersaing menarik pembeli.

Selain sebagai tempat belanja, Pasar Senggol juga menjadi arena nostalgia bagi keluarga. Warga menikmati suasana santai setelah berbuka, anak-anak meminta balon, dan remaja mencari jajanan viral.

Namun, tahun ini suasana berbeda. Beberapa pedagang memilih berjualan secara daring, sementara sebagian lain mengaku daya beli masyarakat sedang melemah. “Biasanya jauh sebelum pembukaan sudah penuh, sekarang masih banyak kosong,” kata salah satu panitia.

Advetorial

Meski lapak kosong tampak kontras dengan yang telah dihuni, panitia tetap optimis. Promosi terus dilakukan melalui media sosial dan kunjungan langsung ke pedagang, dengan harapan tersisa hari menjelang pembukaan bisa meningkatkan jumlah lapak yang terisi.

“Harapan kami tetap sama, semoga lapak cepat terisi dan Pasar Senggol tetap ramai seperti dulu,” ujar panitia. Bagi banyak orang, Pasar Senggol bukan sekadar deretan tenda, melainkan denyut ekonomi kecil yang memberi kesempatan bagi pedagang untuk mencari rezeki, meski hanya beberapa minggu dalam setahun.***