JEMBER, ewarta.co – Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 di Kecamatan Mayang berlangsung khidmat. Apel bendera yang diinisiasi oleh MWCNU Mayang bersama Forkopimcam Mayang tersebut digelar di halaman Kantor Kecamatan Mayang pada Sabtu (24/10/2026).

Sekitar 700 peserta hadir mengikuti apel. Mereka terdiri dari santri PP Raudlatul Jannah, para siswa SD, SMPN 1, dan SMPN 2 Mayang, perwakilan PAC Muslimat NU, Fatayat NU, GP Ansor Mayang, IPNU/IPPNU, PSNU Pagar Nusa, serta unsur instansi terkait.
Bertindak sebagai pembina apel adalah Camat Mayang, Muhammad Najmul Huda. Pembacaan Resolusi Jihad dipimpin oleh Rais Syuriyah MWCNU Mayang, KH. Su'udi Munir, sedangkan Ikrar Santri Nasional dipimpin oleh Ketua MWCNU Mayang, H. Muhammad Hafit. Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Mayang dipercaya bertugas sebagai komandan apel.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kapolsek Mayang AKP Dian Eko T., Danramil Mayang Kapten Inf. Sarjo, Kepala KUA Mayang Muhammad Hari, serta sejumlah kepala desa, termasuk Kepala Desa Tegalrejo Nunung Adi Kontesa.
Membacakan amanat Bupati Jember, Hendy Fawait (Bupati Fawait), Camat Mayang menegaskan bahwa HSN yang diperingati setiap 22 Oktober merupakan momentum untuk mengenang perjuangan ulama dan santri dalam merebut serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
"Namun, menghormati jasa para pendahulu tidak cukup hanya dengan mengenang. Kita harus melanjutkan semangat pengabdian mereka melalui karya dan kontribusi nyata bagi Indonesia," ujar Camat Najmul Huda saat membacakan pesan Bupati Jember.
Bupati menyampaikan bahwa Kabupaten Jember memiliki tradisi keislaman yang kuat. Pesantren telah menjadi pilar penting pembentuk karakter generasi muda sekaligus bagian dari identitas daerah.
"Di pesantren, santri tidak hanya belajar membaca dan memahami kitab. Mereka ditempa untuk memiliki kedisiplinan, kemandirian, kesederhanaan, tanggung jawab, penghormatan kepada guru, serta kepedulian terhadap sesama. Nilai-nilai ini merupakan modal sosial yang sangat berharga bagi pembangunan," lanjutnya.
Bupati juga mengingatkan pentingnya beradaptasi di era transformasi digital. Santri dituntut untuk tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga sains, teknologi, ekonomi, kewirausahaan, dan disiplin ilmu lainnya.
Di akhir sambutannya, Bupati menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para kyai, nyai, pengasuh pesantren, serta para ustaz dan ustazah. Ia berpesan agar para santri terus menjaga nama baik pesantren, tekun menuntut ilmu, dan memanfaatkan masa muda untuk mempersiapkan masa depan.
Rangkaian acara dilanjutkan dengan penutupan yang dimeriahkan oleh penampilan drumband dari santri PP Raudlatul Jannah serta atraksi seni bela diri PSNU Pagar Nusa Mayang, seperti peragaan dilindas mobil.
Apel ini sekaligus menjadi penutup dari rangkaian Peringatan HSN 2026 oleh MWCNU Mayang. Sebelumnya, telah digelar acara "Munajat Santri untuk Negeri" di Kantor MWCNU Mayang pada Rabu (21/10/2026).
Pada kesempatan tersebut, Rais Syuriyah MWCNU Mayang, KH. Su'udi Munir, menguraikan sejarah penetapan Hari Santri Nasional yang diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada tahun 2015.
"Hari Santri berawal dari Resolusi Jihad NU pada 22 Oktober 1945. Isinya menegaskan bahwa hukumnya fardhu 'ain bagi umat Islam untuk berjihad mengusir penjajah dalam radius 94 kilometer dari Bubutan, Surabaya. Selain itu, hukumnya wajib untuk tidak memihak kepada penjajah," terang Pengasuh PP Raudlatul Jannah tersebut.
Ia menambahkan, semangat Resolusi Jihad inilah yang membakar keberanian para santri hingga memicu pertempuran dahsyat 10 November 1945 di Surabaya yang kini diperingati sebagai Hari Pahlawan.
"Ke depan, tugas santri bukan lagi melawan penjajah fisik, melainkan berjuang mengentaskan kebodohan dan kemiskinan," tegas KH. Su'udi Munir.
(Hafit)










