Jakarta, eWarta.co -- Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI) terus melakukan dialog dengan otoritas Iran untuk menjamin keselamatan dua kapal tanker milik PT Pertamina International Shipping (PIS) yang tertahan di Selat Hormuz akibat meningkatnya ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Kemlu RI, Santo Darmosumarto, mengatakan situasi di kawasan Teluk yang belum kondusif membuat pemerintah meningkatkan koordinasi dengan otoritas setempat.
Upaya pembebasan kedua kapal tersebut dilakukan melalui jalur diplomasi oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Teheran.
“Terkait tanker Pertamina, hal tersebut sedang ditindaklanjuti oleh rekan-rekan di KBRI Teheran karena dialognya harus dilakukan dengan pemerintah Iran,” ujar Santo dalam keterangan resmi, Jumat (6/3/2026).
Kemlu memastikan koordinasi dan komunikasi dengan berbagai pihak terkait di Iran terus dilakukan agar kapal tanker Pertamina yang terdampak dapat melintasi Selat Hormuz dengan aman.
Santo menambahkan, dinamika konflik di Timur Tengah berpotensi memberikan dampak terhadap Indonesia, mengingat kawasan tersebut merupakan mitra dagang penting bagi Indonesia.
Karena itu, selain memperkuat perlindungan terhadap warga negara Indonesia (WNI), Kemlu juga meningkatkan komunikasi dengan berbagai pihak untuk mengkaji potensi dampak konflik terhadap Indonesia.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan pemerintah tengah melakukan pendekatan negosiasi untuk membebaskan dua kapal tanker tersebut.
“Ada dua kargo milik Pertamina yang terjebak di Selat Hormuz. Saat ini kapal sedang sandar di lokasi yang lebih aman sambil kami melakukan negosiasi,” ujar Bahlil di Jakarta, Rabu (4/3/2026).
Meski demikian, Bahlil memastikan kondisi tersebut tidak mengganggu ketahanan energi nasional. Pemerintah telah menyiapkan alternatif pasokan energi, termasuk dari Amerika Serikat.
Pertamina juga memastikan seluruh awak kapal dalam kondisi aman di tengah situasi konflik yang masih berlangsung di kawasan tersebut.
Ketegangan di Timur Tengah meningkat setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara dan rudal ke Iran pada Sabtu (28/2/2026) dalam operasi militer yang disebut Operation Lion’s Roar. Serangan itu menargetkan pangkalan militer, fasilitas pertahanan, dan struktur kepemimpinan Iran.
Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan melalui operasi Janji Setia 4 dengan gelombang rudal balistik dan drone yang diarahkan ke wilayah Israel, pangkalan militer Amerika Serikat, serta sejumlah negara sekutu di kawasan Teluk.









