Kotamobagu, eWarta.co – Peringatan Hari Kartini yang jatuh setiap 21 April, kembali menjadi momentum refleksi bagi perempuan Indonesia, termasuk di Kotamobagu. Tahun ini, tema nasional yang diangkat adalah “Refleksi Hari Kartini untuk Pembangunan Daerah dan Emansipasi sebagai Kebangkitan Perjuangan Perempuan,Selasa (21/4/2026.
Raden Adjeng Kartini, lahir pada 21 April 1879 di Jepara, Jawa Tengah, meski hidup singkat hingga usia 25 tahun, menjadi simbol perjuangan perempuan Indonesia. Melalui surat-suratnya kepada sahabat-sahabatnya, termasuk Stella Zeehandelaar dan Rosa Abendanon, Kartini menekankan pentingnya pendidikan perempuan dan kesetaraan gender. Kumpulan surat ini kemudian diterbitkan dalam buku “Habis Gelap Terbitlah Terang”, yang tetap menjadi sumber inspirasi generasi kini.

Di Kotamobagu, perjuangan perempuan juga terlihat melalui kiprah Ibu Walikota Ny. Rindah Mokoginta Gaib, S.E., M.Ec.Dev. Lahir pada 31 Oktober 1985, Ibu Rindah merupakan lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Samratulangi dan Magister Universitas Gajah Mada (UGM). Sebagai Kepala Daerah, ia juga aktif menjabat sebagai Ketua TP PKK, Ketua Dekranasda, Bunda PAUD, Bunda Posyandu, dan Bunda Literasi.
Dalam setahun kepemimpinannya, Ibu Rindah telah melakukan sejumlah program strategis yang memberdayakan perempuan dan memperkuat identitas budaya lokal Kotamobagu.
Pelestarian Budaya dan Kerajinan Lokal
Ibu Rindah bersama tim melakukan identifikasi dan pelestarian budaya Mongondow, mulai dari kain tenun, alat musik tradisional, hingga kuliner lokal. Kain tenun hasil desain khususnya kini digunakan oleh putera-puteri Kotamobagu dalam kegiatan budaya, sekaligus menjadi simbol identitas daerah.
Pendidikan Anak Usia Dini
Sebagai Bunda PAUD, Ibu Rindah menekankan pentingnya pendidikan anak sejak usia dini, sebagai fondasi sebelum memasuki pendidikan dasar. Langkah ini sejalan dengan semangat Kartini dalam mendorong akses pendidikan bagi perempuan.
Kesehatan dan Posyandu
Melalui TP Posyandu, fokus program adalah pemenuhan gizi anak dan pencegahan stunting. Berbagai program telah dijalankan, termasuk pemberian makanan tambahan, sembako bagi keluarga miskin ekstrem, bantuan bibit tanaman, pupuk, serta pelatihan keterampilan bagi ibu-ibu untuk meningkatkan ekonomi keluarga.
Literasi dan Akses Informasi
Ibu Rindah juga mendorong pemenuhan akses bacaan dan informasi bermutu bagi anak-anak, mulai dari tingkat sekolah dasar hingga menengah, untuk mendukung pengembangan karakter dan kecerdasan generasi muda.

“Kiprah perempuan Mongondow di era modern harus mampu menjadi Kartini-Kartini baru, yang berperan aktif dalam pembangunan daerah tanpa meninggalkan akar budaya,” ujar Ibu Rindah.
Sejarah panjang perempuan Mongondow, dari Magdalena Mokoginta yang terlibat dalam Kongres Pemuda 1928 hingga generasi kini, menjadi fondasi kuat bagi perempuan Kotamobagu untuk mengisi kemerdekaan dan memperkuat identitas daerah.
Peringatan Hari Kartini 2026 ini menegaskan kembali peran perempuan sebagai motor pembangunan dan penjaga budaya lokal, sekaligus menjadi inspirasi bagi generasi muda di Kotamobagu.









