BENGKULU,eWARTA.co -- Setelah AM Hanafi, Indra Cahya dan Abdul Rifai diusulkan menjadi Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Provinsi Bengkulu, kali ini mencuat pengusulan nama Prof Dr KH Abdullah Siddik SH oleh warga Bengkulu Utara.
Melalui sosial media, Heri menyebut Abdullah Siddik sejajar dengan nama-nama besar tersebut. Apalagi perjalan hidupnya di masa kemerdekaan menjadi saksi sekaligus peran yang patut diperhitungkan.
Untuk itu, dia meminta pemerintah daerah untuk kembali mengumpulkan catatan sejarah tentang Abdullah Siddik. Sekaligus meninjau pengusulan namanya bersama ketiga nama yang saat ini sedang dikaji.
Kakek Artis Tanah Air Ashanty
Abdullah Siddik yang memiliki riwayat hidup dekat dengan Presiden Pertama Soekarno, diklaim artis Tanah Air Ashanty Siddik Hasnoputro sebagai pejuang kemerdekaan dan memiliki garis keturunan sebagai kakeknya.
Ashanty mengungkapkan riwayat dan perjalanan hidup kakeknya tersebut pada 2019 lalu melalui postingan media sosialnya.
Ashanty mengunggah sebuah foto lawas, dalam foto tersebut duduk kakek dan nenek Ashanty.
Neneknya memangku Ashanty yang masih bayi, sedangkan sang kakek memangku kakak Ashanty.
Dari caption yang dibuat Ashanty, sang kakek diketahui bernama Abdullah Siddik, sedangkan sang nenek bernama H Sutimah Siddik.
Kakek buyut Ashanty, Edward Coles menikah dengan seorang putri keturunan mantan penguasa Pangeran Ing Alaga (nenek buyut Ashanty), di kerajaan Silebar.
Edward Coles merupakan ayah Abdullah Siddik.
Kerajaan Silebar berada di wilayah Bengkulu, Sumatra Selatan kala itu.
Orang tua nenek buyut Ashanty menjadi gubernur terakhir Benteng Marlborough Bencoolen (Bengkulu), pada 14 Oktober 1781 hingga 28 Februari 1785.
Tak kalah dari pihak pihak sang kakek, Sutimah Siddik juga berasal dari keluarga bangsawan.
Sutimah Siddik merupakan anak dari Louis de Buys seorang berkebangsaan Belanda.
Nenek moyangnya merupakan pangeran dari Pagar Ruyung, yang memimpin masyarakat suku Gumai.
Sebagai keturunan bangsawan Abdullah Siddik berprofesi sebagai seorang diplomat.
Diberitakan media nasional, Abdullah Siddik bahkan kerap menemani petinggi-petinggi negara di acara kenegaraan.
Tak hanya sering mendampingi para petinggi negara, Abdullah Siddik juga kerap bertugas ke luar negeri.
Tak heran apabila, Ashanty memiliki saudara yang kini tinggal di luar negeri.
Ketua Pengadilan Tinggi dan Mahkamah Tentara RI
Datuk Abdullah Siddik lahir di Muara Aman, Bengkulu pada 13 Juni 1913. Beliau aktif di dalam Jong Islamietan Bond bersama Agus Salim.
Abdullah Siddik pernah menjabat sebagai Ketua Pengadilan Tinggi Sumatera Selatan. Selain itu ia juga merangkap sebagai Mahkamah Tentara Republik Indonesia dengan Pangkat Kolonel.
"Aktif di Jong Islamieten Bond bersama Agus Salim. Ketua Pengadilan Tinggi Sumatra Selatan merangkap Ketua Mahkamah Tentara Republik Indonesia dengan Pangkat Kolonel," tulis kakak Ashanty.
Karier sebagai Pemimpin
Sosok Abdullah Siddik memang bukan orang sembarangan. Kakek Ashanty juga pernah menjadi Residen diperbantukan kepada Gubernur Sumatra di Bukittinggi 1947.
Abdullah Siddik juga pernah menjadi rektor Akademi Pamongpraja dan Adminitrasi Bukittinggi tahun yang sama. Pada tahun 1948 diangkat menjadi Pemimpin Sektretarian Komisaris Pemerintahan Pusat di Bukittinggi.
Perjalanan Karier sebagai Diplomat
Abdullah Siddik mulai mengawali karier menjadi diplomat pada tahun 1950-1960. Kariernya dimulai di Kairo Mesir, Manila Filipina.
Selanjutnya ia menjadi Duta Besar luar biasa dan Menteri berkuasa penuh di Bangkok, Thailand memimpin delegasi Indonesia pada Konperensi UNECAFE (United Nations Economic Commission for Asia and Far East). Tak hanya itu beliau juga pernah menjadi Duta Besar Indonesia di Rangoon Burma. (Bisri/dari berbagai sumber)









