BENGKULU, ewarta.co – Owner MR Group, Ir. Marwan Ramis, mendorong masyarakat dan pelaku usaha di Bengkulu untuk mengubah pola pikir dalam mengembangkan bisnis. Menurutnya, usaha di era modern tidak lagi cukup mengandalkan modal dan mengejar keuntungan semata, melainkan harus mampu menciptakan nilai tambah (added value).
Marwan menjelaskan bahwa modal kini bukan lagi syarat utama dalam memulai usaha. Kemampuan membaca peluang, memahami sistem, serta menghubungkan berbagai subsistem justru menjadi faktor penentu, hal ini disampaikan saat menerima audiensi bersama Forum Wartawan Ekonomi Bengkulu, Kamis (24/09/2026).
"Modal itu sekarang sudah berubah. Yang utama adalah pengolahan otak—bagaimana kita melihat peluang dan memahami sistem," ujar Marwan.
Ia menambahkan, keuntungan seharusnya bukan satu-satunya orientasi. Pelaku usaha perlu berfokus pada penciptaan nilai tambah dalam suatu sistem, sehingga keuntungan akan terbentuk secara alami sebagai bagian dari proses tersebut.
Marwan mencontohkan keberhasilan jaringan ritel modern yang mampu menghubungkan produsen, distributor, gerai, dan konsumen secara terintegrasi. Kekuatan model ini terletak pada pengelolaan volume, distribusi, serta kesinambungan sistem, bukan sekadar besarnya margin per produk. Menurutnya, konsep serupa dapat diterapkan di Bengkulu dengan mengoptimalkan potensi lokal melalui kolaborasi tanpa harus memiliki seluruh sarana produksi sendiri.
"Yang diperlukan saat ini adalah wawasan, kecepatan, dan ketepatan mengambil keputusan. Kita tidak harus memiliki semuanya, tetapi harus memahami subsistemnya dan tahu cara menyinkronkannya," tegasnya.
Selain itu, Marwan menyoroti pentingnya berpikiran kreatif, inovatif, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi informasi agar tidak tertinggal.
Salah satu potensi lokal yang disorotinya adalah sektor kopi. Ia menilai Bengkulu berpeluang besar membangun identitas kopi daerah. Namun, hal itu membutuhkan standardisasi menyeluruh—mulai dari bahan baku, racikan, penyajian, kemasan, hingga strategi promosi.
"Jangan sampai muncul produk kopi Bengkulu, tetapi bulan depan langsung tutup. Subsistemnya harus kita sinkronkan, mulai dari sumber kopi, racikan, penggunaan gula aren, gelas, cara penyajian, hingga branding," jelasnya.
Marwan meyakini pendekatan berbasis ekosistem ini dapat diterapkan di berbagai sektor ekonomi lain di Bengkulu untuk menciptakan pertumbuhan usaha yang berkelanjutan. (**)










