Bengkulu, eWarta.co – Konsorsium Perempuan Sumatera Mampu (PERMAMPU) mendorong pemerintah pusat dan daerah mempercepat pemulihan lahan pertanian, sumber air, dan mata pencaharian masyarakat yang terdampak banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir 2025. Desakan ini disampaikan dalam momentum Hari Pangan Internasional, 16 Oktober 2026, dengan menyoroti dampak bencana terhadap ketahanan pangan dan kehidupan perempuan petani.
PERMAMPU menyebut kerusakan lahan pertanian, perkebunan, jaringan irigasi, dan sumber air telah menyebabkan petani kehilangan sumber pangan serta pendapatan. Di Aceh Utara, misalnya, sawah yang masih tertimbun lumpur menghambat produksi padi dan membuat petani harus membeli beras untuk kebutuhan sehari-hari. “Sawah-sawah masih tertimbun lumpur tebal. Proses pengerukan lumpur belum selesai hingga saat ini, membuat tikus cepat berkembang biak di lahan yang telantar,” kata Evi Tasma, warga Desa Tumpok Beurandang, Kecamatan Muara Batu, Aceh Utara.
Selain percepatan pemulihan lahan, PERMAMPU mendorong keterlibatan perempuan petani dalam memulihkan pertanian melalui praktik adaptif terhadap perubahan iklim. Salah satunya dengan pembuatan pupuk organik dari limbah sayuran untuk mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia yang mahal. Inisiatif tersebut dinilai dapat membantu perempuan petani mengembalikan produktivitas lahan sekaligus memperkuat kemandirian pangan keluarga dan komunitas.
PERMAMPU merekomendasikan percepatan pemulihan lahan dan irigasi, penyediaan sarana produksi pertanian, serta jaminan akses lahan produktif bagi masyarakat yang direlokasi dengan melibatkan perempuan petani dan kelompok marginal. Konsorsium itu juga meminta peningkatan kapasitas dan partisipasi perempuan dalam pengelolaan sumber daya pertanian berkelanjutan, serta perbaikan tata kelola lingkungan dan penghentian praktik perusakan hutan maupun sungai untuk mencegah bencana ekologis berulang.










