BENGKULU,eWARTA.co -- Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bengkulu, Win Rizal mengatakan inflasi Kota Bengkulu bulan Maret 2021 terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya beberapa indeks harga kelompok pengeluaran. Sejumlah bahan pokok di Kota Bengkulu berkontribusi dalam kenaikan Inflasi sebesar 0,23 persen.
"Perkembangan harga berbagai komoditas pada Maret secara umum menunjukkan adanya kenaikan," kata Win, Rabu (7/4/2021).
Berdasarkan hasil pemantauan BPS, pada Maret 2021 terjadi inflasi di Kota Bengkulu sebesar 0,23 persen, atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 104,89 pada Februari 2021 menjadi 105,13 pada Maret 2021. Tingkat inflasi tahun kalender Maret 2021 sebesar 0,77 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun sebesar 1,45 persen.
Kelompok pengeluaran yang mengalami inflasi tertinggi adalah kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 0,45 persen; diikuti kelompok kesehatan sebesar 0,34 persen; kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,33 persen; kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,26 persen; kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,19 persen; kelompok transportasi sebesar 0,18 persen; kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,11 persen dan kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,06 persen.
Sedangkan kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi adalah kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,30 persen. Sementara kelompok pengeluaran yang stabil adalah kelompok rekreasi, olahraga dan budaya dan kelompok pendidikan.
"Dengan inflasi sebesar 0,23 persen di bulan Maret 2021 ini, maka besarnya inflasi tahun kalender atau laju inflasi sebesar 0,77 persen, dan inflasi tahunan tercatat sebesar 1,45 persen," kata Win.
Inflasi bulan ini utamanya disebabkan oleh naiknya harga ikan dencis, cabai merah, rokok putih, mie, seng, ikan tongkol/ambu-ambu, bawang merah, pelumas/oli mesin, pepaya dan sepeda.
Sementara kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi dipengaruhi dengan turunnya harga daging sapi, emas perhiasan, susu bubuk untuk balita, minuman ringan, minyak goreng, beras, semen, telur ayam ras, susu cair kemasan dan teh.
Berdasarkan pemantauan Badan Pusat Statistik di 90 kota di Indonesia, 58 kota mengalami inflasi dan 32 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Jayapura sebesar 1,07 persen dan inflasi terendah di Tangerarg dan Banjarmasin sebesar 0,01 persen. Sedangkan deflasi tertinggi terjadi di Bau-bau sebesar 0,99 persen dan terendah terjadi di Palopo sebesar 0,01 persen. (Bisri)









