SELUMA, eWarta.co – Di tengah sukacita keberhasilan Kabupaten Seluma menyabet gelar Juara Umum MTQ ke-37 Tingkat Provinsi Bengkulu, sebuah polemik mulai mencuat ke permukaan. Isu ini berkaitan dengan dugaan dihadirkannya kafilah perwakilan Seluma yang disinyalir bukan warga lokal asli (kafilah naturalisasi).
Informasi yang beredar di tengah masyarakat menyebutkan bahwa regu Fahmil Qur’an Putra Seluma diperkuat oleh dua peserta yang berasal dari Kabupaten Bengkulu Utara dan satu peserta dari Kota Bengkulu.
Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Daerah (Sekda) Seluma, H. Hadianto, S.E., M.M., M.Si. (Catatan Editor: Menyesuaikan nama Sekda Seluma yang menjabat), memberikan penjelasan. Ia membenarkan bahwa sebagian kafilah yang mewakili Seluma memang awalnya tidak berdomisili di kabupaten tersebut. Namun, ia menegaskan status mereka sah memperkuat Seluma melalui mekanisme yang diperbolehkan oleh regulasi.
Menurutnya, aturan dalam Musabaqah Tilawatil Qur’an tingkat Provinsi Bengkulu tidak melarang peserta dari kabupaten lain untuk bergabung membela daerah tertentu, selama mereka masih berstatus sebagai warga dalam satu lingkup Provinsi Bengkulu.
"Ketiganya memang bukan tinggal di Seluma, tetapi mereka merupakan bagian resmi dari Kafilah Kabupaten Seluma. Dalam aturan MTQ, hal tersebut diperbolehkan selama peserta masih berasal dari Provinsi Bengkulu," jelasnya, Senin (18/5/2026).
Isu miring ini mencuat justru di tengah euforia keberhasilan Kafilah Seluma meraih prestasi membanggakan. Tidak hanya regu Fahmil Qur’an Putra, regu Fahmil Qur’an Putri Kabupaten Seluma juga sukses meraih juara pertama dan menjadi salah satu cabang yang paling menyita perhatian.
Kondisi tersebut memicu pertanyaan dari sejumlah masyarakat yang menyayangkan dan mempertanyakan kesempatan bagi putra-putri asli Seluma untuk tampil mewakili daerahnya sendiri di ajang tingkat provinsi.
Terpisah, mantan Sekretaris Laporsdam NU Provinsi Bengkulu, Hendri Tomi, meminta panitia maupun official Kafilah Seluma segera memberikan klarifikasi secara terbuka agar isu ini tidak menggelinding menjadi polemik berkepanjangan.
Menurut Hendri, penjelasan resmi dan transparan sangat diperlukan untuk menjaga marwah MTQ sebagai ajang syiar Islam dan pembinaan generasi Qur’ani, sekaligus menghindari kesalahpahaman yang meluas di masyarakat.
"Jika memang benar anak-anak tersebut merupakan warga Seluma, tentu harus dijelaskan secara detail kepada masyarakat. Sebutkan asal desanya, siapa orang tuanya, sehingga informasi yang simpang siur bisa diluruskan dengan fakta," tegas Hendri.
Dirinya juga mengajak masyarakat untuk ikut membantu memberikan pelurusan informasi apabila mengetahui latar belakang para peserta tersebut secara pasti, agar isu yang berkembang tidak hanya berdasarkan asumsi atau dugaan sepihak.
"Polemik terkait status kepesertaan seperti ini sebenarnya kerap muncul dalam setiap pelaksanaan MTQ, terutama ketika suatu daerah berhasil meraih prestasi yang menonjol. Karena itu, keterbukaan informasi menjadi kunci penting untuk menjaga kepercayaan publik," tambahnya.
Meski demikian, Hendri mengimbau masyarakat agar tidak terburu-buru mengambil kesimpulan negatif tanpa data yang jelas. Ia meminta semua pihak tetap menjaga kondusivitas dan menghormati seluruh peserta MTQ yang telah berjuang di atas panggung. (Rns)









