BENGKULU, eWarta.co -- Setelah menanti, Jembatan Air Cugung Patil kini berdiri gagah, tidak hanya sebagai infrastruktur penghubung fisik, tetapi juga sebagai simbol kebanggaan dan penuntas rindu bagi warga Kebun Tebeng. Peresmian jembatan ini secara resmi mengakhiri kisah panjang perjuangan masyarakat lokal.
Peresmian yang penuh makna ini ditandai dengan pengguntingan pita oleh Walikota Bengkulu Dedy Wahyudi dan Wakil Walikota Bengkulu Ronny PL Tobing. Prosesi tersebut bukan sekadar seremoni, melainkan simbol dimulainya harapan baru—menghapus isolasi dan membuka akses yang lebih layak bagi aktivitas ekonomi dan sosial warga.
Jembatan ini jauh dari sekadar tumpukan semen dan besi. Namanya, "Cugung Patil," membawa serta kekayaan budaya lokal dan warisan lisan.
Cugung (bukit) dan Patil (alat pertukangan) adalah narasi yang turun-temurun di wilayah ini. Kini, kisah rakyat itu termanifestasi menjadi sebuah bangunan kokoh yang secara harfiah menghubungkan perjalanan masa lalu dengan laju masa depan.
Jembatan ini adalah wujud nyata bahwa investasi infrastruktur di Kota Bengkulu berakar pada pengakuan terhadap sejarah lokal.
Kehadiran Jembatan Air Cugung Patil diharapkan menjadi urat nadi baru yang mempercepat denyut kemajuan Kota Bengkulu. Bagi warga Kebun Tebeng, jembatan ini adalah jalan pintas menuju kesejahteraan.
"Jembatan ini adalah penghubung hati, penguat persatuan. Dari kisah rakyat menjadi kebanggaan kota, dari masa lalu menuju harapan baru," ujar Walikota dalam sambutannya, menekankan dimensi emosional dari proyek ini.
Dengan beroperasinya Jembatan Air Cugung Patil, warga tidak hanya mendapatkan jalur transportasi yang aman dan efisien, tetapi juga mendapatkan ruang kebanggaan kolektif.
Jembatan ini menjadi monumen yang mengajarkan banyak hal: bahwa perjuangan dan kisah lokal dapat diabadikan menjadi sebuah mahakarya yang berfungsi untuk kemajuan bersama. (**)









