Kajian Vitalitas, Hindarkan Bahasa Enggano dari Kepunahan

Create: Mon, 09/08/2021 - 19:53
Author: Alwin Feraro
Tags

 

BENGKULU,eWARTA.co -- Upaya pelindungan bahasa-bahasa di Indonesia, khususnya di pulau-pulau kecil terluar tidak luput menjadi perhatian Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Salah satunya adalah Pulau Enggano di Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu. 

Melalui Pusat Pengembangan dan Pelindungan Bahasa dan Sastra bersama dengan Kantor Bahasa Provinsi Bengkulu, Kajian Vitalitas Bahasa Enggano dilakukan belum lama ini untuk mengetahui status bahasa Enggano yang saat ini terancam punah.

Kepala Kantor Bahasa Bengkulu Yanti Riswara mengatakan, keberadaan status bahasa tersebut ditentukan sendiri oleh penutur bahasa Enggano. Hal ini disebabkan situasi dan kondisi kebahasaan masyarakat Enggano tentunya lebih diketahui oleh penutur bahasa Enggano itu sendiri. 

"Dari hasil kajian vitalitas bahasa Enggano ini menentukan upaya pelindungan bahasa selanjutnya. Apakah bahasa Enggano hanya dapat didokumentasikan melalui kegiatan konservasi bahasa dan atau dapat pula ditingkatkan penggunaan bahasanya kepada penutur muda melalui kegiatan revitalisasi bahasa," kata Yanti, Senin (9/8/21).

"Dengan begitu, keberlanjutan upaya pelindungan bahasa ini penting demi menjaga kekayaan takbenda bangsa Indonesia," tambahnya.

Ia menyebutkan dari status vitalis itu dua bahasa daerah yakni bahasa daerah Rejang dan Enggano, terancam punah. Hanya Bahasa Melayu Bengkulu yang kondisinya masih tergolong aman.

"Dari ketiga bahasa daerah tersebut, bahasa Rejang dan Enggano terancam punah, sedangkan bahasa Melayu Bengkulu seperti di daerah Serawai, Pesemah, dan Mukomuko masih tergolong aman," katanya.

Saat ini, lanjut Yanti, selain bahasa Rejang dan Enggano, ada juga 9 bahasa daerah lain yang terancam punah sebagian besar berasal dari Indonesia bagian timur, yaitu Papua, Papua Barat, Maluku dan Maluku Utara.

Pihaknya berharap bahasa daerah Enggano dan Rejang yang merupakan bahasa asli masyarakat Provinsi Bengkulu tidak ikut punah karena perkembangan zaman. 

"Untuk menjaga agar bahasa-bahasa daerah yang ada di Bengkulu tidak sampai punah, masyarakat harus kembali menghidupkan bahasa daerah tersebut dengan melakukan upaya agar generasi muda tetap menggunakan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari," katanya.

Dia menjelaskan ada tiga faktor utama agar bahasa tidak punah, yaitu pertama pengajaran muatan lokal bahasa daerah, kedua setiap keluarga kembali menggunakan bahasa daerah di lingkungan keluarga masing-masing dan ketiga pemerintah melakukan berbagai upaya untuk mendukung pelestarian bahasa daerah. 

"Dengan membuat program-program pembinaan bahasa daerah, termasuk membuat kamus itu akan menyegarkan kembali status bahasa itu di tengah-tengah generasi muda saat ini," pungkasnya. (Bisri)