Bengkulu - Ketua Komisi I DPRD Provinsi Bengkulu, Dempo Xler, S.IP, M.AL, mengajak mahasiswa untuk mengembangkan budaya belajar Legislatif sebagai bagian dari peran dan fungsi anggota Legislatif. Dempo Xler menyampaikan pandangannya saat menjadi pemateri dalam acara Sekolah Legislatif Mahasiswa di Universitas Bengkulu (UNIB), yang diselenggarakan oleh Dewan Perwakilan Mahasiswa UNIB di Gedung Rektorat UNIB, kemarin.
Menurut Dempo, mahasiswa perlu memahami peran dan fungsi anggota DPR, sehingga saat mereka sudah menjadi anggota Legislatif atau tokoh masyarakat, mereka telah memiliki pengetahuan yang memadai tentang agenda dan fungsi DPR. "Makanya penting belajar tentang Legislatif," ujar Dempo.
Dempo juga berharap agar mahasiswa UNIB membuktikan kualitasnya sesuai dengan branding UNIB sebagai kampus terbaik di Bengkulu. Ia mendorong mahasiswa untuk aktif dalam kegiatan positif dan membuktikan prestasi akademis yang baik. "Mahasiswa harus membuktikan Unib itu kampus terbaik di Bengkulu. Jangan sampai hanya sebatas selogan yang tidak ada isinya," tambahnya.

Dalam konteks ini, kegiatan yang diselenggarakan oleh Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) UNIB dianggap Dempo sebagai sarana yang mampu melahirkan mahasiswa yang handal, hebat, dan berkualitas. Dempo juga mengungkapkan rencananya untuk menciptakan 100 Parlemen Muda 2029.
"Semoga tercipta teman-teman mahasiswa yang handal, hebat, dan berintegritas. Saya sedang menyusun agenda dan menyiapkan 100 Parlemen Muda 2029," kata Dempo.
Dalam konteks pendidikan politik di kampus, Dempo mengakui bahwa kampus harus menjadi ruang pendidikan politik, tetapi tidak boleh menjadi tempat kampanye politik. Ia menekankan perbedaan antara pendidikan politik dan politik praktis. Pendidikan politik bertujuan memberikan pemahaman kepada mahasiswa dan masyarakat melalui politik.
"Mahasiswa merupakan agen perubahan dan kontrol sosial. Jadi sudah selayaknya mahasiswa diberikan pemahaman politik agar mengetahui fungsi rekan-rekan di parlemen dan fungsi politik sehingga mahasiswa bisa menyampaikan kepada masyarakat siapa orang yang layak duduk di parlemen," tegas Dempo.
Wakil Rektor IV Universitas Bengkulu, Dr. Ardilafiza, S.H., M.Hum, yang juga menjadi salah satu pemateri, menyoroti penurunan daya kritis mahasiswa saat ini. Ia menekankan perlunya mahasiswa untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan menggunakan sarana digitalisasi. Ardilafiza mengajak mahasiswa untuk menjadi infrastruktur politik dari negara dan mengontrol serta memberikan tekanan terhadap kebijakan yang dianggap merugikan masyarakat.
"Mahasiswa harus menjadi infrastruktur politik dari negara, sehingga bisa mengontrol dan menjadi daya tekan terhadap kebijakan yang dirasa tidak menguntungkan masyarakat. Kalau suara masyarakat tidak muncul di permukaan hanya di kampus saja, itu tidak berarti apa-apa," ungkap Ardilafiza.
Ketua DPM UNIB, Dalvixto, menyatakan bahwa acara ini merupakan awal dari serangkaian kegiatan untuk meningkatkan pengetahuan mahasiswa tentang peran dan fungsi Legislatif. "Kita akan adakan lagi kegiatan Sekolah Legislatif. Ini untuk meningkatkan kualitas pengetahuan mahasiswa tentang fungsi Legislatif. Nantinya dapat diterapkan di DPM kampus," kata Dalvixto. (Red/Adv)









