Idul Fitri DPR Seluma

googlesyndication

Petilasan Syekh Aminullah di Keramat Manula 

 

LAMPUNG,eWARTA.co -- Maqam Syekh Aminullah (Al-Habib Abdullah bin Husain Al Attos) atau biasa juga disebut Keramat Manula merupakan wisata religi yang terletak di perbatasan Provinsi Bengkulu-Lampung, tepatnya berlokasi di Desa Pugung Tanjung Jaoh Kecamatan Lemong, Krui Pesisir Barat Kabupaten Lampung.

Maqam ini berada di dalam kawasan taman nasional bukit barisan selatan yang menjulang di atas bukit menghadap lautan samudera. Perjalanan menuju ke maqam hanya dapat ditempuh melalui jalan setapak sejauh kurang lebih 2 kilometer atau setengah jam dari gerbang masuk yang bersebrangan dengan lintas Pesisir Barat Lampung. Sementara dari desa terdekat di Kabupaten Kaur yakni Desa Tebing Rambutan Kecamatan Nasal Kabupaten Kaur, sekira setengah jam perjalanan ditempuh dengan berkendara.

Berziarah ke makam Syekh Aminullah sudah dilakukan sejak zaman dahulu sebelum adanya jalan lintas Lampung - Bengkulu, akses jalan yang ditempuh yakni melewati pekon Pugung tanjung jaoh dengan menyusuri pantai dengan tebing karang dan melewati rimbunnya hutan belantara.

Namun sejak adanya Jalan lintas Lampung ke Bengkulu inilah awal mula melonjaknya peziarah dari penjuru negeri. Dahulu untuk sampai ke maqam, peziarah memakan waktu hingga 1 hari penuh pulang-pergi, berbeda dengan sekarang lebih singkat untuk sampai di lokasi maqam. Suasana yang tenang sejuk dan jauh dari hingar bingar bising manusia inilah yang akan kita jumpai selama perjalanan Hingga tiba di lokasi.

Petilasan Syekh Aminullah

Tidak ada yang spesifik menjelaskan kapan dan di mana Syekh Aminullah wafat. Namun beberapa versi menyebutkan bahwa Syeikh Aminullah wafat pada 1525 masehi. 

Syekh Aminullah sendiri tidak dimakamkan di sini melainkan yang disebut Keramat Manula-Maqam Syek Aminullah ini adalah sebuah petilasan saat beliau mencapai puncaknya menyebarkan agama Islam di Nusantara.

Dikisahkan Juru Kunci Maqam Syekh Aminullah, Komarudin, awaliah (sebutan bangsawan) Al Habib Abdullah bin Husain Al Attos hendak melanjutkan aktivitasnya menyebarkan agama Islam berlayar menuju Aceh menggunakan perahu miliknya melewati Pesisir Barat. Namun sesampainya di perairan Krui, perahunya justru dihantam badai dan terdampar di wilayah ini. 

Syek Aminullah yang berhusnuzan kala itu, merasa tempat yang ia singgahi ini adalah tempat terakhir untuk sedekat mungkin dengan Allah. Sehingga dalam ilmu Tasawu, maqam/maqamat berarti kedudukan hamba dalam pandangan Allah berdasarkan apa yang telah diusahakan, baik melalui riyadhah, ibadah, maupun mujahadah, telah sampai pada jalan panjang yang harus Aminullah tempuh.   

Syekh Aminullah pun tinggal hingga akhir hayatnya di sini. Namun keberadaan jasadnya tiadalah yang tau selain Allah ta'ala. 

Meski secara harfiah Syek Aminullah telah mati, kepercayaan juru kunci mengungkap bahwa Syek Aminullah belum mati. Wali Allah ini kerap hadir saat para peziarah datang mengantarkan doa. Namun hanya orang yang diizinkan Allah yang dapat merasakan kehadirannya.

Secara nalar kita tak akan mampu dihadapkan dengan kehadirannya. Namun secara hakekat, ruh Syekh Aminullah hadir di raga penerusnya sebagai tempat meminjam raga/wali abdal, yang setiap periode tertentu digantikan oleh orang berbeda. 
   
Sehingga pemaknaan dalam ilmu tarekat, Syekh Aminullah masih selalu hadir untuk menyambung doa bagi peziarah. 

Ada dua tempat yang menjadi petilasan Syekh Aminullah yakni kolam berbentuk makam dengan hakekatnya manusia dilahirkan, dimatikan dan dibersihkan dan bukit yang justru menjadi tempat kedua atau turun menyampaikan doa.

Komarudin menceritakan kolam batu inilah tempat pertama yang dituju Syekh Aminullah atas perintah Allah menjadikannya tempat bersuci. Kolam batu yang digali menggunakan tangan dalam semalam menjadi salah satu karamah Syekh Aminullah. Sekelilingnya terdapat tiga sumur kecil/lubang berbentuk lafaz Allah, dan sembilan lubang bermakna sembilan ayat dalam Surah Al-Fatihah serta kehadiran wali sembilan/wali songo penerus Syekh Amnilullah untuk mengajarkan Islam di Nusantara.         

Komarudin mengatakan bersuci dan mandi di kolam batu ini menjadi kewajiban sebelum mengamalkan doa/ziarah di maqam ini. Jika peziarah datang tanpa mandi di kolam ini, maka amalannya sama dengan beribadah di rumah/tempat biasa. 

Tempat kedua sebagai pusat/bukit dengan dua batu lonjong, kurang lebih setinggi 40 senti meter dan berat 30 kilometer, penanda tempat berdoa. Hakekatnya justru sebagai tempat turun atau tempat terendah di bumi untuk menyampaikan doa. Berbentuk seperti makam untuk mengingat kematian dan tempat kembali kepada Allah. Kedua pembuatan/tempat petilasan ini memiliki jarak yang diperkirakan satu tahun setelah Syekh Aminullah menggali kolam.

Di sekeliling dua batu inilah peziarah menyampaikan doa kepada Allah agar hajat dan urusan dunia cepat terkabul.

Karamah

Petilasan Syekh Aminullah di Keramat Manula 

Masyarakat sekitar menyebutnya Maqam Puyang Jaoh, Maqam Tian Ghumpok, sebuah sebutan yang menandakan bahasa yang halus saat menyebut area ini. 

Maqam keramat berarti ada sosok wali/ulama/syekh yang dianugerahi oleh Allah SWT "Karomah" dan hal ini sudah lumrah kita dengar khususnya warga Indonesia. Jika sudah ada istilah "Keramat" tentu dibenak kita adalah tempat yang suci dan banyak orang berdo'a (ziarah), Begitu pula di Maqam Syekh Aminullah ini.

Saat tiba di area makam, peziarah akan langsung dihadapkan dengan kolam batu berukuran kecil lengkap dengan aliran mata airnya. Sepintas ukuran kolam kecil ini tak akan muat untuk mandi. Namun suatu keajaiban ada, di mana ketika peziarah mencoba masuk ke kolam batu tersebut terasa lapang dan bisa muat lebih dari satu orang. Sungguh kuasa Allah.

Di lokasi maqam yang terdapat di bukit terdapat gubuk kecil dan mushola sebagai pijakan pertama ketika sampai di area makam. Peziarah bisa sholat atau istirahat sejenak lalu berdo'a di sekitaran maqam.

Ada sesuatu yang membuat peziarah heran yaitu pada ke dua batu nisan makam hanya berupa batu lonjong tinggi ±40 cm tegak berdiri tanpa ditancap atau digali. Permukaan batu nisan tersebut tidak rata dan tidak pula runcing. Ini sungguh keajaiban dari yang Maha Kuasa Allah SWT.  

Sebelum berdoa, kata Komarudin, peziarah dianjurkan untuk berkeliling/tawaf di sekeliling batu. Setelahnya melanjutkan dengan amalan-amalan seperti Shalat dan menghaturkan salawat nabi lalu menyampaikan doa. Ada isyarat menarik saat kita memiliki hajat atau keinginan yakni diizinkan mengangkat batu seberat kurang lebih 30 kg. Jika kondisi dan pikiran tertuju pada keduniawian, maka batu takan terangkat. Namun jika telah iklas dan menyerahkan keadaan pada Allah, peziarah akan bisa mengangkat batu itu. Serta masih banyak lagi karamah Syekh Aminullah yang tidak penulis ketahui.  

Berziarah merupakan tanda kita mengakui kebesaran Tuhan yang Maha Kuasa, sekaligus mengetahui sejarah Islam masa silam.

Menjadi satu alasan singgahnya Syeh Aminullah di tempat ini adalah atas izin Allah. Sehingga bukan tanpa maksud Allah memerintahkan manusia untuk menyendiri di tempat antah barantah di Maqam Manula. 

Juga bukan tanpa maksud Allah menjadikannya tempat makbul untuk berdoa. Melainkan sebuah pemaknaan ketika manusia harus mampu meninggalkan dunia untuk merendah kepadanya. Allah maha kaya, maha digdaya dan maha segala. Sehingga hakekat manusia untuk mengingat Allah ada pada dirinya sendiri. “wallahu a'lam”      

Ziarah Tokoh-tokoh Besar

Juru kunci Komarudin mengungkapkan berbagai tokoh nasional dan kepala daerah pernah singgah dan ziarah di maqam ini. Yakni Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mohammad Mahfud Mahmodin Damanik, Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian, Ketua DPR Puan Maharani, kerabat Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah dan masih banyak lainnya.  

"Selain tokoh dan kepala daerah, maqam Manula juga sering didatangi para alim ulama di pelosok negeri" kata Komarudin. 

Dirusak 

Keberadaan Maqam Manula yang sudah mencapai ratusan tahun bukan tanpa terusik. 

Komarudin menyayangkan banyaknya peziarah yang tak tau makna dari petilasan Syek Aminulla. Sehingga kerap kali ditemui peziarah merusak bagian kolam bersuci dengan mencoret-coret, mancantumkan namanya di dinding kolam.

Selain itu, salah satu batu sebagai simbol makam juga telah hilang dibawa orang tak bertanggungjawab. 

"Orang mengira batu itu memiliki kesaktian sehingga dibawa pulang saat tak ada satupun orang yang menjaga" kata Komarudin.  

Namun Komarudin memastikan keaslian batu yang disimbolkan sebagai pusat/kepala masih terjaga asli. 

"Kejadiannya dua tahun belakangan. Batu pada bagian kaki yang asli berbentuk lonjong dan sedikit bengkok. Sekarang sudah diganti dengan batu di sekitaran kolam" katanya.
 
Banyaknya sampah juga menjadi satu masalah yang perlu diatasi sehingga area maqam tidak rusak oleh zaman.

Komarudin pun berpesan agar para peziarah tak melakukan perusakan di area petilasan dengan mencoret-coret atau membuang sampah sembarangan. (Bisri)