Bengkulu – Anggota DPD RI/MPR RI, apt. Destita Khairilisani, S.Farm., M.S.M., menghadiri Seminar dan Workshop Nasional Program Pengendalian Resistensi Antimikroba (PPRA) 2025 yang digelar di Hotel Santika Kota Bengkulu, Minggu (14/12/2025).
Kegiatan yang mengusung tema “Strategi Jitu Tata Laksana Antibiotik Kritis dalam Mengoptimalkan PPRA” ini menghadirkan narasumber utama Dr. apt. Rina Mutiara, M.Pharm., FACP, praktisi farmasi klinik sekaligus akademisi nasional.
Dalam sambutannya, Senator Destita mengapresiasi terselenggaranya seminar dan workshop ilmiah tersebut yang dinilai sangat penting bagi tenaga kesehatan, khususnya apoteker dan tenaga medis di rumah sakit. Menurutnya, kegiatan semacam ini tidak hanya meningkatkan kapasitas dan kompetensi, tetapi juga menjadi wadah silaturahmi serta kolaborasi antartenaga kesehatan.
“Melalui seminar dan workshop rutin seperti ini, kita bisa terus memperbarui pengetahuan, meningkatkan wawasan, serta saling bertukar pengalaman, terutama dalam tata kelola penggunaan antibiotik yang aman dan rasional,” ujar Destita.
Destita menegaskan bahwa resistensi antimikroba merupakan tantangan besar di dunia kesehatan yang harus ditangani secara kolektif. Hal ini menjadi krusial bagi tenaga kesehatan yang terlibat langsung dalam pelayanan pasien, khususnya di rumah sakit.
“Resistensi antimikroba adalah pekerjaan rumah kita bersama. Karena itu, pembahasan mengenai antibiotik kritis dan optimalisasi PPRA sangat relevan untuk meningkatkan mutu, keamanan, dan efektivitas terapi bagi pasien,” jelas Anggota Komite III DPD RI tersebut.
Sebagai apoteker dengan latar belakang akademik dan pengalaman riset di rumah sakit, Destita mengaku memiliki kedekatan emosional dengan dunia pelayanan kesehatan. Ia menegaskan komitmennya untuk terus mendukung penguatan kebijakan serta implementasi PPRA di daerah.
“Saya berharap ke depan kita bisa terus bersinergi dan berkolaborasi dalam mendukung tenaga kesehatan, khususnya dalam pengendalian resistensi antibiotik yang berdampak langsung pada keselamatan pasien,” tambahnya.
Sementara itu, dalam pemaparan materinya, Dr. apt. Rina Mutiara menyampaikan bahwa resistensi antimikroba telah menjadi ancaman kesehatan global. Ia menuturkan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menempatkan resistensi antibiotik sebagai salah satu ancaman utama kesehatan masyarakat dunia dengan angka kematian global yang terus meningkat akibat infeksi bakteri resisten.
Menurutnya, keberhasilan implementasi PPRA di rumah sakit sangat ditentukan oleh komitmen pimpinan, kolaborasi multidisiplin, surveilans yang kuat, edukasi berkelanjutan, serta pelaksanaan audit dan umpan balik secara konsisten.
“Tanpa komitmen pimpinan rumah sakit, PPRA tidak akan berjalan optimal. Pengendalian antibiotik harus menjadi bagian dari budaya mutu dan keselamatan pasien,” tegas Rina.
Seminar dan workshop ini diikuti oleh apoteker, dokter, perawat, serta tenaga kesehatan yang tergabung dalam tim PPRA dari berbagai rumah sakit. Kegiatan ditutup dengan diskusi interaktif dan pendalaman materi terkait akreditasi serta implementasi PPRA di rumah sakit.
Melalui kegiatan ini, diharapkan pemahaman dan komitmen tenaga kesehatan dalam pengendalian resistensi antimikroba semakin kuat, sehingga pelayanan kesehatan yang aman dan bermutu dapat terus ditingkatkan.









