Firasat Buruk Penumpang Selamat Bus Sriwijaya Sebelum Menabrak dan Masuk Jurang

Tim SAR Gabungan masih terus mengevakuasi korban, terlihat badan bus masih terendam di dalam sungai.

 

PAGAR ALAM, ewarta.co - Kecelakaan maut yang menimpa puluhan penumpang serta supir Bus Sriwijaya yang terperosok kedalam jurang setinggi 75 meter dan mengakibatkan banyaknya penumpang meninggal dunia pada Senin sekitar pukul 23:00 WIB malam, meninggalkan cerita sedih dan tragis bagi para penumpang yang selamat.

Diketahui, hingga saat ini penumpang yang meninggal dunia masih terus bertambah, Tim Gabungan telah berhasil mengevakuasi 25 orang meninggal dan korban selamat berjumlah 13 orang.

Salah satu korban yang selamat, Hasanah (52) yang tengah terbaring di RSUD Besemah Kota Pagar Alam mencoba menceritakan kronologis bus yang ditumpanginya bersama cucu dan dua orang rekannya itu.

Menurut Hasanah, bus yang ditumpanginya saat di perjalanan sempat ditabrak oleh minibus, supir bus dan supir minibus sempat bersitegang hingga akhirnya berdamai dan bus melakukan perjalanan kembali.

Saat di ujung Pendopo, Kabupaten Empat Lawang, perjalanan bus kembali terganggu lantaran bus sempat masuk ke selokan dan hampir terbalik, seluruh penumpang panik dan turun dari bus.

Beruntungnya, pengendara yang lewat menolong bus yang masuk siring tersebut dan akhirnya bus kembali melanjutkan perjalanan, firasat buruk sudah ada sejal awal perjalanan.

"Di ujung Pendopo, bus kami masuk siring (selokan) dan hampir terbalik. Kami turun semua," katanya saat ditemui RSUD Besemah Pagaralam, dikutip dari Sripoku.com.

Setelah itu, Hasanah menyebutkan bahwa supir bus sempat membawa bus dengan kencang, secara tiba-tiba bus menabrak, ia mengaku tidak tahu bagaimana lagi kejadiannya dan tiba-tiba ia sudah ada di dalam air.

Saat itu, ia langsung memegang cucunya dan dua rekannya memecahkan kaca jendela bus dan berhasil menyelamatkan diri dengan berpegangan ke sebuah pohon.

"Dia ngebut dan tiba-tiba dan menabrak sesuatu dengan keras. Tahu-tahu kami sudah sudah ada di dalam air. Saya pegang cucu saya. Teman-teman saya langsung pecahkan kaca, kami keluar. Dari situ, kami berpegangan dengan batang (pohon). Kalau tidak, kami akan hanyut karena air sangat deras. Kami teriak-teriak. Belum ada yang tolong karena kejadiannya tengah malam," tambahnya.

Setelah itu, mereka berteriak meminta pertolongan kepada siapapun yang melewati jalur Lematang Indah Kota Pagar Alam.

"Tolong, tolong. Kalau ada orang di atas, tolong kami. Om tolong kami," kata Hasanah menirukan teriakan sang cucu, Aisyah (9) yang ikut selamat bersamanya. (Nay)