Bengkulu, eWarta.co — Relawan Masyarakat Antifitnah Indonesia (Mafindo), Iyud Dwi Mursito, mengingatkan masyarakat terhadap ancaman serius dari teknologi deepfake, yakni manipulasi gambar, video, maupun suara dengan bantuan kecerdasan buatan (AI). Fenomena ini, menurutnya, meningkat tajam dalam setahun terakhir dan perlu segera diantisipasi bersama.
Dalam dialog bersama RRI baru-baru ini, Iyud mengungkapkan hasil riset Mafindo yang menunjukkan bahwa deepfake dan scam (penipuan digital) menjadi dua bentuk konten hoaks yang paling banyak beredar sepanjang 2025.
Ia menilai, jika tren ini terus berkembang dan menyentuh isu-isu sensitif, maka dampaknya bisa mengganggu stabilitas sosial bahkan merusak reputasi seseorang.
“Meski jumlahnya tidak besar, efek dari konten manipulatif ini bisa sangat luas dan berbahaya, baik bagi individu maupun masyarakat,” jelasnya.
Ia menjelaskan, kecerdasan buatan kini memfasilitasi penyebaran hoaks melalui dua cara utama, yaitu deepfake dan generative AI.
Teknologi deepfake memungkinkan wajah, suara, dan gerak bibir seseorang diubah sedemikian rupa seolah-olah ia mengatakan atau melakukan sesuatu yang tidak pernah terjadi. Sementara generative AI dapat menciptakan narasi atau teks palsu yang tampak meyakinkan dan sulit dibedakan dari fakta.
Menurut Iyud, publik masih “gelagapan” menghadapi maraknya konten deepfake ini. Karena itu, ia menegaskan bahwa penanggulangan tidak bisa hanya dibebankan pada pemerintah, melainkan juga menjadi tanggung jawab platform digital dan masyarakat luas.
Berdasarkan hasil risetnya, Mafindo merekomendasikan penguatan literasi digital di bidang keamanan siber agar masyarakat mampu mengenali dan menolak konten manipulatif.
Selain itu, pemerintah juga diminta memperbaiki komunikasi publik dengan membuka ruang dialog, baik secara daring maupun langsung, untuk mengurangi kesenjangan informasi yang sering dimanfaatkan oleh pembuat hoaks.









