BENGKULU, ewarta.co -- Potensi besar kopi arabika di Provinsi Bengkulu terancam hanya jadi penonton di rumah sendiri. Meski ekspansi kedai kopi modern kian agresif, komitmen pemain industri nasional dalam memberdayakan petani lokal melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) dan penyerapan rantai pasok dinilai masih minim.
Salah satunya terlihat dari operasional Tomoro Coffee. Kendati telah mengoperasikan lebih dari 650 gerai secara nasional dan terus menambah lapak di Bengkulu, pasokan kopi untuk jaringan raksasa ini justru masih didominasi dari luar daerah, seperti Aceh, Jawa, dan Sulawesi.
Owner Tomoro Coffee Bengkulu, Arbi, tak menampik bahwa wilayah dataran tinggi seperti Kepahiang, Rejang Lebong, dan Lebong sangat potensial untuk pengembangan arabika. Namun, alih-alih langsung mengucurkan program pemberdayaan atau membuka pintu penyerapan hasil panen lokal, pengelola daerah beralasan masih menunggu instruksi pusat terkait eksekusi CSR.
“Untuk program CSR di Bengkulu, kami masih akan melakukan koordinasi lebih lanjut dengan manajemen pusat,” ujar Arbi.
Sikap menggantung ini makin mempertegas lambannya realisasi tanggung jawab sosial korporasi di daerah ekspansi. Sejauh ini, upaya peningkatan kapasitas petani yang digaungkan baru sebatas wacana program Tomorfosis yang baru diuji coba di Bali serta pelibatan figur barista internasional.
Padahal, kebutuhan mendesak petani Bengkulu saat ini adalah intervensi CSR yang konkret dan langsung menyasar akar masalah: pendampingan teknis budidaya, penyediaan bibit unggul arabika, hingga kepastian penyerapan hasil panen dengan harga adil.
Tanpa komitmen CSR yang jelas dan terukur dari manajemen pusat, kehadiran jaringan kedai kopi nasional di Bengkulu dikhawatirkan hanya sebatas mengeruk ceruk pasar lokal tanpa memberikan dampak ekonomi yang nyata dan berkelanjutan bagi petani setempat. (**)










