PERMAMPU Soroti Hak Kesehatan Seksual Perempuan Lansia

Create: Thu, 10/09/2026 - 12:01
Author: Admin 3
Tags

 

Medan, eWarta.co – Konsorsium PERMAMPU (Perempuan Sumatera Mampu) menyoroti masih terbatasnya pemenuhan hak kesehatan seksual dan reproduksi (HKSR) bagi perempuan lansia dan pra-lansia. Persoalan tersebut dibahas dalam peringatan Hari Kesehatan Seksual Internasional 2026 melalui pertemuan hybrid bertema “Merayakan HKSR di Seluruh Siklus Kehidupan” pada 7 September 2026.

Kegiatan tersebut berlangsung melalui sekitar 25 titik kumpul luring dan daring di kabupaten/kota dari 10 provinsi lokasi anggota PERMAMPU di Sumatera. Sebanyak 262 peserta mengikuti kegiatan ini, terdiri dari 258 perempuan dan empat laki-laki, termasuk 51 perempuan lansia dan 94 perempuan pra-lansia anggota Credit Union (CU).

Koordinator Konsorsium PERMAMPU, Dina Lumbantobing, mengatakan kesehatan dan hak seksual dan reproduksi merupakan bagian dari hak asasi manusia yang harus dipenuhi sepanjang siklus kehidupan. Menurutnya, perempuan lansia memiliki kebutuhan kesehatan seksual yang kompleks, tetapi masih menghadapi stigma dan minimnya ruang aman untuk membicarakannya.

“Perempuan lansia menghadapi dinamika kesehatan seksual yang kompleks, tetapi terkendala oleh minimnya ruang aman untuk mendiskusikannya secara kritis serta tingginya stigma masyarakat,” ucap Dina.

PERMAMPU menemukan pembahasan mengenai seksualitas masih kerap dipersempit sebagai persoalan hubungan seksual. Padahal, edukasi seksualitas mencakup otonomi tubuh, pencegahan penyakit menular seksual, kontrasepsi, serta perubahan kesehatan reproduksi pada masa perimenopause dan pascamenopause.

Dokter spesialis penyakit dalam konsultan geriatri, dr. Nur Riviati, SpPD, K-Ger, mengatakan kebutuhan seksualitas tetap ada sepanjang kehidupan seseorang dan tidak berhenti ketika memasuki usia lanjut. “Seksualitas merupakan kebutuhan sepanjang hayat,” ujarnya.

Ia mengatakan aspek seksualitas yang diabaikan dapat berdampak terhadap kualitas hidup dan kesehatan psikologis lansia, termasuk berkontribusi terhadap munculnya depresi. Karena itu, kebutuhan tersebut perlu dibicarakan secara terbuka melalui pendekatan medis yang tepat dan tanpa stigma.

Dalam diskusi tersebut, peserta juga mengidentifikasi sejumlah persoalan, mulai dari terbatasnya ruang aman, stigma ketika lansia membicarakan kesehatan seksual, layanan yang masih berorientasi pada usia produktif, hingga minimnya tenaga spesialis geriatri. PERMAMPU selanjutnya mendorong integrasi layanan HKSR lansia ke Puskesmas dan Posyandu Lansia, penguatan pendidikan seksual berbasis keluarga dan komunitas, serta penyusunan kebijakan lokal yang lebih responsif terhadap kebutuhan perempuan lansia dan pra-lansia.