Jember Tetapkan KLB Campak di 15 Kecamatan: 40 Kasus Positif, Ledokombo Tertinggi

 

JEMBER, eWarta.co – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Jember melaporkan temuan kasus Campak dan Rubella yang signifikan sepanjang periode 2025-2026. Sebanyak 15 kecamatan kini ditetapkan masuk dalam kategori Kejadian Luar Biasa (KLB) setelah ditemukan puluhan kasus positif yang tersebar di wilayah tersebut.

Foto, ewarta.co

​Kepala Dinkes Jember, Muhammad Zamroni, S.H., M.Si, mengungkapkan data tersebut dalam rapat dengar pendapat (hearing) bersama Komisi D DPRD Jember dan 15 Kepala Puskesmas, Senin (11/5/2026).

​"Dari total 50 Puskesmas yang tersebar di 31 kecamatan, ada 15 Puskesmas yang masuk kategori KLB Campak. Status ini ditetapkan karena ditemukan minimal dua kasus positif dalam satu desa," ujar Zamroni.

​Berdasarkan data yang dipaparkan oleh Kepala Bidang Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit (P2P), dr. Rita Wahyuningsih, total terdapat 119 suspek campak di Jember, dengan 40 di antaranya telah dinyatakan positif melalui hasil laboratorium.

​Berikut adalah pemetaan wilayah dengan kasus positif tertinggi:

​Kecamatan Ledokombo: 12 suspek, 8 positif (Tertinggi).

​Kecamatan Sumberjambe: 8 suspek, 5 positif.

​Kecamatan Umbulsari: 4 positif.

​Kecamatan Mayang: 4 positif.

​Kecamatan Silo: 4 positif (tersebar di 2 wilayah kerja Puskesmas).

​10 Puskesmas lainnya: Masing-masing mencatat 2 kasus positif.

​"Penanganan sudah kami lakukan secara maksimal, namun kami masih menghadapi kendala terkait keterbatasan stok vaksin untuk langkah mitigasi lebih lanjut," jelas dr. Rita.

​Menanggapi kondisi ini, Anggota Komisi D DPRD Jember, Muhammad Hafidzi Kholis, menegaskan bahwa virus Measles dan Rubella tidak boleh disepelekan karena tingkat penularannya yang sangat cepat.

​"Kami berkepentingan mendapatkan data yang akurat agar kebijakan penanganan bisa diambil secara tepat dan cepat. Sinergi antara eksekutif, dalam hal ini Dinas Kesehatan, dengan legislatif sangat krusial," tegas Hafidzi.

​Komisi D juga mendesak Puskesmas di wilayah KLB untuk meningkatkan koordinasi dan pertukaran informasi guna memutus rantai penularan. Pihaknya sedang menginventarisasi langkah-langkah yang telah diambil Dinkes untuk mengevaluasi efektivitas penanganan di lapangan.

​"Jangan sampai kasus ini menyebar lebih luas. Kami akan kawal apa yang sudah dilakukan dan mencari solusi atas kendala yang ada, termasuk masalah kekurangan vaksin tersebut," pungkasnya. (hafit/adv)