Panen Hidroponik Jadi Bukti Kemandirian Penyandang Disabilitas di Bengkulu

Create: Wed, 26/08/2026 - 19:32
Author: Admin 3

 

BENGKULU, eWarta.co — Penyandang disabilitas di bawah naungan Persatuan Mitra Masyarakat Disabilitas (PMMI) mulai memanen sayuran hidroponik hasil pendampingan dosen Universitas Hazairin (Unihaz), Rabu (26/8/2026). Panen perdana yang digelar di halaman Sekretariat PMMI tersebut menjadi bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang didanai Kemendiktisaintek 2026.

Sekitar 50 orang menghadiri kegiatan tersebut, mulai dari pengurus PMMI, jajaran Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unihaz, tim pengabdi, penyandang disabilitas hingga mahasiswa. Program ini tidak hanya mengenalkan teknik budidaya hidroponik, tetapi juga diarahkan untuk membangun keterampilan dan kepercayaan diri peserta.

Ketua Umum PMMI, Irna Liza Yuliastuty, mengatakan pendampingan bersama Unihaz telah berjalan sekitar empat bulan. Menurutnya, program tersebut memberikan ruang bagi penyandang disabilitas untuk mempelajari keterampilan baru sekaligus mengembangkan potensi yang dimiliki.

“Kami sangat menyambut baik kerja sama dengan pihak Unihaz dengan gagasannya untuk memberdayakan para penyandang disabilitas melalui hidroponik ini,” kata Irna.

Ketua LPPM Unihaz, Sri Rustianti, menilai hasil panen menunjukkan peserta mampu mengikuti proses budidaya dengan baik. Ia menyebut keberhasilan program tidak hanya diukur dari sayuran yang dihasilkan, tetapi juga dari pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh peserta.

“Saya melihat sayuran hidroponik yang dikelola disabilitas tumbuh sangat subur, saya sangat bahagia dengan capaian ini, namun yang kita panen bukan hanya sayurnya tetapi juga ilmu dan keterampilannya,” ujar Sri.

Ketua Tim Pengabdi PKM Unihaz, Irma Lisa Sridanti, mengatakan program tersebut dirancang untuk membuka akses bagi penyandang disabilitas terhadap keterampilan pertanian berbasis teknologi. Selain pelatihan hidroponik, tim juga memberikan pendampingan untuk meningkatkan mental dan rasa percaya diri peserta.

“Yang kami lakukan di sini tidak hanya mengedukasi tentang hidroponik, lebih jauh dari itu kami juga menguatkan mental dan self-esteem peserta sehingga mereka memiliki keyakinan bahwa mereka bisa dan mampu untuk berkarya,” katanya.

Tim pengabdi terdiri atas Irma Lisa Sridanti sebagai ketua, Susi Hardiyanti sebagai motivator self-esteem, dan Ikhsan Hasibuan sebagai ahli pertanian organik. Pendampingan dilakukan secara bertahap agar peserta mampu memahami sekaligus mempraktikkan teknik budidaya hidroponik.

Deddy Syahputra, salah seorang peserta sekaligus koordinator kegiatan hidroponik, mengaku awalnya peserta sempat ragu menjalankan budidaya sayuran dengan sistem hidroponik. Setelah mendapatkan pendampingan, mereka mulai memahami bahwa teknik tersebut dapat dipelajari dan dikerjakan secara mandiri.

“Awalnya kami tidak begitu yakin untuk bisa melaksanakan rangkaian kegiatan teknik budidaya tanaman sayuran dengan metode hidroponik ini, namun setelah kami jalani dan dibina oleh tim pengabdi dan ahli hidroponik, ternyata tidak sesulit yang kami bayangkan,” ujar Deddy.

Para peserta berharap pendampingan serupa dapat terus dilakukan agar keterampilan yang telah diperoleh bisa dikembangkan menjadi kegiatan produktif. Program hidroponik tersebut diharapkan menjadi salah satu jalan bagi penyandang disabilitas untuk membangun kemandirian dan membuka peluang ekonomi.