Empat Puluh Ton Emas dari Kampung Kami; Catatan Orang Lebong tentang Tambang


Lebong, eWarta.co -- Saya lahir dan besar di Topos, Lebong. Waktu kecil, saya mengenal lubang-lubang tua di perbukitan sekitar Lebong Donok dan Muara Aman sebagai bagian dari lanskap kampung. Orang tua kami menyebutnya bekas tambang Belanda. Kami tahu ada terowongan di dalam bukit. Kami tahu ada nama Lubang Kacamata, dua mulut goa berdampingan yang bentuknya memang mirip kacamata. Yang tidak kami tahu waktu itu adalah angkanya.

Angka itu baru saya temukan belakangan, ketika membaca riwayat perusahaan bernama Mijnbouw Maatschappij Redjang Lebong. Dari tahun 1900 sampai 1935, perusahaan itu mengangkat 40.540 kilogram emas dari Lebong Donok. Lebih dari empat puluh ton. Semuanya dari tanah tempat saya belajar berjalan.

Saya membaca angka itu beberapa kali. Rasanya aneh mengetahui kampung sendiri lewat catatan orang lain.
Cerita tambang di Lebong tidak dimulai dari Belanda. Penduduk di kawasan ini sudah mengenal emas sejak sekitar abad ke-13, sejak masa Hindu-Buddha. Emas menjadi salah satu mata pencaharian. Orang mendulang butiran emas yang bercampur pasir sungai. Sebagian bahkan menggali sampai ke urat aslinya di dalam tanah. Caranya sederhana, alatnya sederhana, tapi pengetahuannya nyata. Orang Lebong tahu di mana emas itu tidur, jauh sebelum ada insinyur Eropa menginjak tanah ini.

Lalu datang tahun 1896. Seorang penjelajah bernama Eugène Kassei menemukan endapan emas berkadar tinggi di kawasan Lebong. Ia tidak bekerja sendirian. Ia dibantu Haji Ismael, orang tempatan yang mengantarnya sampai ke lokasi. Bagian ini selalu membuat saya berhenti. Dalam catatan resmi, nama Kassei tercatat sebagai penemu.

Padahal penemuan itu berdiri di atas pengetahuan penduduk yang sudah berumur ratusan tahun. Orang tidak bisa menemukan sesuatu yang sudah lama dipakai orang lain. Yang terjadi tahun 1896 bukan penemuan. Yang terjadi adalah pengambilalihan.

Setahun setelah itu, pengambilalihan tadi mendapat badan hukum. Pada 10 Februari 1897, perusahaan swasta Belanda bernama Mijnbouw Maatschappij Redjang Lebong resmi berdiri di Lebong Donok. Ia menjadi perusahaan tambang pertama di kawasan Lebong. Ia mengelola endapan yang ditunjukkan oleh tangan Haji Ismael.

Sesudah itu Lebong ramai. Endapan-endapan lain ditemukan di Lebong Sulit, Lebong Simau, Lebong Simpang, dan Tambang Sawah. Perusahaan menyusul berdiri. Mijnbouw Maatschappij Lebong Sulit berdiri tahun 1902 di Ketahuan. Mijnbouw Maatschappij Simau berdiri tahun 1906. Pemerintah Hindia Belanda tidak mau ketinggalan. Tahun 1915 mereka menggarap Lebong Simpang dan Tambang Sawah secara besar-besaran dengan uang negara. Lima perusahaan tambang emas bekerja di satu kawasan kecil di pedalaman Bengkulu. Kampung kami mendadak jadi salah satu titik paling berharga di peta Hindia Belanda.

Lebong Donok terpencil. Jaraknya sekitar 160 kilometer dari Kota Bengkulu, dan jalannya menanjak melintasi Bukit Barisan. Bagi perusahaan, ini masalah logistik. Mesin bor, suku cadang, dan bahan kimia harus diangkut dari pelabuhan ke pedalaman. Maka jalan pun dibangun, ratusan kilometer, menembus rawa, hutan lebat, tanjakan terjal, dan jurang. Sesudah jalan, menyusul rumah sakit, sekolah, dan bangunan penunjang lain untuk kehidupan orang Eropa dan para pekerja tambang.

Orang sering menyebut ini warisan pembangunan kolonial. Saya membacanya dengan lebih dingin. Jalan itu tidak dibangun supaya anak Lebong mudah ke pasar. Jalan itu dibangun supaya mesin mudah masuk dan emas mudah keluar. Kalau kemudian penduduk ikut memakainya, itu efek samping, bukan tujuan.

Membedakan tujuan dari efek samping itu penting, supaya kita tidak salah berterima kasih.
Emas Lebong Donok bukan emas sungai yang tinggal didulang. Emas itu terkunci di dalam batuan keras, jauh di bawah permukaan. Karena letaknya dalam dan lembahnya terjal, perusahaan memakai metode tambang bawah tanah. Para pekerja mengebor dinding-dinding goa untuk mengambil batu yang mengandung emas. Bekas pengeboran itu tumbuh menjadi jaringan terowongan, ada terowongan utama, ada terowongan mendatar.

Terowongan itu berfungsi sebagai jalan keluar masuk pekerja, mesin, dan material, sekaligus sebagai lubang udara.
Batu yang sudah diambil tidak langsung jadi emas. Bijih diangkut dengan lori kecil yang leluasa keluar masuk terowongan. Di luar, bijih dihancurkan di dalam mesin penghancur, digiling sampai sangat halus, lalu diayak dan dipisahkan dengan aliran air.

Sesudah itu bagian yang paling saya ingat setiap kali melewati sungai-sungai di Lebong: bubur bijih dimasukkan ke tangki-tangki besar dan diolah dengan sianida untuk melepaskan emas dari batuannya. Racun itu bagian resmi dari prosesnya. Ke mana sisa larutannya dibuang selama puluhan tahun, catatan yang saya baca tidak bercerita.

Produksi Lebong naik cepat. Tahun 1913, Redjang Lebong menghasilkan 872 kilogram emas, Simau 1.024 kilogram, dan Lebong Sulit 209 kilogram. Nilai gabungannya sekitar 4,5 juta gulden dalam setahun. Lalu datang tahun 1914, dan angkanya melompat. Simau naik menjadi 5.418 kilogram. Redjang Lebong melompat lebih tinggi lagi, menjadi 6.621 kilogram, naik 651 persen dalam setahun.

Penyelidikan geologi yang berhasil dan mesin yang lebih baik membuat perusahaan-perusahaan itu bisa menyedot bukit dengan kecepatan yang belum pernah ada.
Emas itu tidak berhenti di Bengkulu. Ia dikapalkan lewat perusahaan dagang Erdmann Sielcken di Batavia, lalu dijual ke Eropa, ke London, ke New York. Antara 1923 dan 1930 saja, produksi emas Lebong dari tiga tambang besarnya bernilai 33,2 juta gulden. Pemerintah kolonial ikut kenyang lewat pajak. Melihat untung sebesar itu, pemerintah menaikkan anggaran tambangnya sendiri di Lebong Simpang dan Tambang Sawah. Hasilnya mengecewakan mereka. Kedua tambang negara itu dilikuidasi tahun 1925 dan 1931. Yang swasta lebih licin dan lebih tahan.

Kalau semua dijumlahkan, dari tahun 1900 sampai 1935 kawasan Lebong menghasilkan 82.090 kilogram emas. Redjang Lebong menyumbang 40.540 kilogram. Simau 32.100 kilogram. Lebong Sulit 6.810 kilogram. Tambang Sawah 2.630 kilogram. Delapan puluh dua ton emas dari satu kawasan yang hari ini masih tercatat sebagai salah satu kabupaten miskin. Saya tidak tahu cara membaca dua fakta itu berdampingan tanpa merasa marah.

Satu per satu tambang di Lebong tutup. Eksploitasi yang terlalu rakus membuat cadangan menipis, biaya produksi naik, dan untung mengecil. Empat perusahaan berguguran. Redjang Lebong bertahan paling lama, dan alasannya masuk akal. Cadangan di Lebong Donok memang sedikit lebih tebal. Tapi yang membuatnya awet adalah kelengkapannya. Perusahaan ini punya bendungan sendiri untuk irigasi dan tenaga. Punya bor listrik, kereta listrik pengangkut bijih, alat pencetak emas, laboratorium penguji kadar, pompa air, alat penyaring, oven pembakar emas, sampai bengkel listrik sendiri. Sebuah kota industri kecil di tengah pegunungan Bengkulu, lengkap, mandiri, dan bekerja siang malam.

Kelengkapan itu hanya menunda akhir. Produksi terus turun sejak awal 1930-an. Bukit yang selama tiga puluh tahun dibor akhirnya tidak punya banyak lagi yang bisa diberikan. Tahun 1942, bersamaan dengan runtuhnya kekuasaan Belanda di Hindia, Mijnbouw Maatschappij Redjang Lebong resmi tutup. Perusahaan pertama yang berdiri di Lebong menjadi yang terakhir pergi. Ia pergi bukan karena kalah atau diusir. Ia pergi karena isi bukitnya sudah dipindahkan ke tempat lain.

Sekarang mari berhitung dengan jujur. Empat puluh ton emas dari Lebong Donok saja. Delapan puluh dua ton dari seluruh Lebong. Emasnya ada di London dan New York, entah sudah berubah menjadi apa. Pajaknya masuk kas Batavia dan Den Haag. Yang tertinggal di kampung kami adalah lubang-lubang di perut bukit, bekas kolam pengolahan, dan cerita.

Tapi ada satu warisan lagi yang jarang disebut, dan justru ini yang paling saya pikirkan. Tambang itu mewarisi cara pandang. Sejak 1897, tanah Lebong dilihat dari atas sebagai gudang sumber daya, bukan sebagai kampung halaman orang. Cara pandang itu tidak ikut tutup tahun 1942. Ia berganti baju. Hari ini kami masih berhadapan dengan peta-peta yang digambar jauh dari Lebong, yang menetapkan hutan kami sebagai kawasan ini dan itu, yang menghitung isi tanah kami sebelum bertanya siapa yang hidup di atasnya. Perusahaannya sudah lama bubar. Logikanya masih bekerja.

Di kampung, orang masih menyusuri sungai membawa dulang. Sebagian masih berani masuk ke lubang-lubang tua peninggalan Belanda, mencari sisa yang mungkin terlewat, dengan penerangan seadanya dan tanpa jaminan apa pun. Saya tidak menyalahkan mereka. Mereka mengambil remah dari meja yang dulu penuh, di tanah moyang mereka sendiri.

Saya menulis catatan ini bukan untuk meratap. Saya menulisnya supaya angka itu tidak hilang dari ingatan kami. Empat puluh ribu lima ratus empat puluh kilogram. Anak-anak Lebong perlu tahu bahwa kampung mereka pernah menghidupi ekonomi sebuah imperium. Bukan supaya mereka bangga dengan tambangnya. Supaya mereka tidak pernah lagi percaya bahwa kampungnya miskin karena tidak punya apa-apa. Lebong tidak pernah tidak punya apa-apa. Lebong hanya tidak pernah diberi hak untuk menikmati miliknya sendiri.

***

Erwin Basrin